RADARJOGJA.CO.ID – KALAU ngerasa cuma Doraemon yang punya kantong ajaib buat mewujudkan barang-barang imajinasi, kamu udah pernah coba pakai 3D printing belum? Bahkan, membuat replika dirimu sendiri merupakan hal yang mudah. Nggak heran, di beberapa negara maju, teknologi itu difungsikan maksimal untuk berbagai bidang.

Emang sih, kecanggihan 3D printing bukan hal baru. Menurut Co-Founder SugaCube 3D Studio Harry Liong, antusiasme terhadap teknologi tersebut di Indonesia justru baru terasa mendekati akhir 2016. “Mulai bermunculan tuh perusahaan-perusahaan 3D printing. Bahkan, ada perusahaan yang nawarin kerja sama untuk dibuatkan data dari berbagai hasil scanning yang pernah saya buat,” ujar Harry.

Hasil scanning itu dibikin melalui proses foto. Kemudian, hasilnya menjadi data 3D untuk dapat dicetak mesin 3D printing. Hasil scanning tersebut nanti juga bisa dijual di pasaran loh. FYI, masih sedikit loh perusahaan 3D printing yang mampu membuat data secara riil.

Lewat hasil riset yang cukup panjang, Harry mampu memanfaatkan aplikasi 3D printing menjadi bisnis studio foto dengan hasil 3D. Eksperimen dimulai sejak 2012 hingga 2013. Setelah ribuan kali gagal, Harry bersama kakaknya, Iwan Sugata, berhasil menemukan teknik scanning yang mudah dan sederhana, yakni photogrammetry. Teknik itu diterapkan dengan memfoto objek dari berbagai angle hanya menggunakan satu kamera. Teknik tersebut akhirnya menjadi panduan utama SugaCube hingga sekarang.

Harry mengungkapkan, ide usaha itu muncul ketika percakapan tentang action figure bersama teman-teman di garasi. Dari situ penggemar komik Marvel tersebut ingin meng-“actionfigure”-kan dirinya sendiri. Bersama Iwan, Harry mengembangkan teknologi 3D printing. Iwan bahkan rela berburu informasi di pameran teknologi di Spanyol. Selanjutnya, selama tiga bulan, Iwan mencari vendor untuk membuat alat tersebut melalui berbagai workshop 3D printing.

Percobaan pertama adalah mewujudkan action figure diri. “Dalam 30 menit, saya harus diam dan mengatur napas agar detail posisi dan lekuk tubuh saya nggak berubah,” jelas Harry. Selama itu Harry difoto satu kamera dengan sudut berbeda tapi dengan jarak objek dan kamera yang sama. Hingga akhirnya, 75 angle foto yang didapat kemudian diolah menjadi desain 3D di software khusus 3D printing. “Untuk membuat detail datanya, saya hanya mempelajari desain karakter superhero Marvel loh, hehehe,” ungkap Harry. Sebab, menurut dia, karakter komik asal USA itu memiliki detail terbaik untuk membuat dasar cetakan 3D printing.

Hingga kini, bisnis yang resmi didirikan pada April 2014 tersebut berhasil mencuri perhatian. Hampir setiap hari dia diminta untuk memproduksi action figure para klien. Dengan memantapkan sasaran konsumen, produknya mampu mengambil hati pembeli kelas atas. Bukan tanpa asalan. Awal memulai usaha tersebut, bahan baku yang digunakan perlu diimpor. Harga yang ditawarkan pun relatif mahal.

Sedangkan seka rang, udah ada pe nyedia lokal bahan bakunya. Nggak heran, omzet Su ga Cube mencapai Rp 100 juta per bulan. “Saya sangat yakin mesin 3D bisa masuk ke rumah dan mampu mem-produksi benda apa pun yang dibutuhkan,” tutur Harry. (pew/c14/ivm/ong)