RADARJOGJA.CO.ID – Sejak digelar perdana pada Selasa (3/1) sidang perkara ini menjadi sorotan publik. Tak pelak, sidang terakhir yang terbuka untuk umum kemarin, ratusan orang memadati ruang sidang dan halaman PN Bantul. Puluhan aparat kepolisian tampak berjaga di dalam dan luar ruang sidang. Kehadiran aparat untuk mengantisipasi potensi kericuhan di kantor pengadilan yang terletak di Jalan Soepomo. Itu mengingat banyaknya kelompok massa yang berasal dari keluarga korban, siswa Muhi Jogja, dan tokoh masyarakat.

Meski terbuka untuk umum, polisi hanya memperbolehkan anggota keluarga terdakwa maupun korban masuk ruang persidangan yang terletak di lantai dua ini. Bahkan, setiap pengunjung sidang diperiksa petugas yang berjaga di tangga sebelah barat selasar PN Bantul. Tak terkecuali awak media yang meliput persidangan.

Baca: Penganiaya Siswa Muhi Jogja Divonis 3-5 Tahun

Penjagaan ekstra ketat juga tampak saat mobil tahanan yang membawa sepuluh terdakwa masuk ke kompleks gedung PN Bantul. Begitu keluar dari mobil tahanan sekitar pukul 13.25, kesepuluh terdakwa yang semuanya mengenakan kemeja putih dipadu celana kain hitam langsung digiring menuju lantai dua.

Polisi juga melokalisasi anggota keluarga korban dan terdakwa, serta ratusan siswa Muhi Jogja. Itu setelah terjadinya keriuhan ruang sidang. Seorang anggota keluarga korban berteriak histeris memaki-maki para terdakwa usai mendengar vonis majelis hakim. “Biarin! Gara-gara mereka adikku mati,” seru perempuan muda itu saat ditenangkan anggota keluarganya.

Puluhan personel kepolisian juga mengawal kepulangan rombongan siswa Muhi hingga wilayah perbatasan. Guna mencegah kerusuhan di jalan. Mobil tahanan yang membawa sepuluh terdakwa menuju Rumah Tahanan Negara Pajangan juga dikawal mobil polisi.(zam/yog/ong)