RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Penambangan pasir liar masih terjadi. Masih berlangsung di sejumlah lokasi. Bahkan penambangan tersebut menggunakan alat berat di pekarangan warga.

Kasi Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Lelono mengatakan penambangan yang tak terkontrol berdampak negatif bagi lingkungan.

Saat ini material erupsi Merapi telah habis. Itulah mengapa penambang liar merangsek ke pekarangan warga. Material yang ditambang bukan lagi pasir, tapi lahan asli, bukan sisa erupsi Merapi.

“Seharusnya tidak boleh. Saat ini sisa erupsi tersisa hanya di Srunen Glagaharjo. Tapi kawasan itu justru tidak tersentuh, penambang justru menyasar pekarangan,” kata Joko.

Kawasan Lereng Merapi sejatinya ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana (KRB). “Tertuang dalam Perbup 20/2011 tentang KRB Gunung Merapi. Ada poin dimana kawasan tersebut dinyatakan sebagai kawasan lindung,” ujar Joko kemarin.

Penegasan ini tertuang dalam Pasal 2 terkait kawasan lindung. Salah satu fungsinya adalah sebagai pelestarian alam. Disinggung pula dalam Pasal 3 terkait pemeliharaan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Termasuk pengurangan risiko bencana Gunung Merapi.

Dalam Pasal 3 Ayat 2 disinggung mengenai menjaga pelestarian fungsi kawasan resapan air. Juga menjaga pelestarian fungsi kawasan lindung. Dikuatkan dalam huruf c tentang fungsi kawasan sempadan sungai, mata air dan embung.

“Berkaca pada pasal, sudah jelas bahwa penambangan itu merusak alam. Bahkan saat tim kami melakukan survei lapangan menemukan beberapa lokasi penambangan. Bahkan beberapa lokasinya berada di pekarangan warga,” kata Joko.

Keterlibatan mitigasi bencana dalam penambangan sangat penting. KRB III merupakan kawasan terbatas untuk aktivitas. Termasuk penambangan liar di pekarangan warga.

Penegakan Perda sebenarnya tergantung inisiatif. “Tetap di provinsi dengan melibatkan kabupaten. Atau inisiatif kabupaten melaporkan ke provinsi,” ujar Joko.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Purwanto menjelaskan kawasan Merapi adalah kawasan konservasi resapan air. Selain itu sebagai habitat vegetasi alami Sleman utara.

Penambangan liar dipastikan berdampak pada lingkungan. Apalagi penambang liar tidak memiliki perencanaan penambangan. Diawali dari eksplorasi, lalu eksploitasi dan ditutup dengan reklamasi. (dwi/iwa/ong)