RADARJOGJA.CO.ID – Belum juga kompetisi Divisi Utama (DU) mulai, PSIM Jogjakarta sudah keberatan dengan anggaran. Terutama jika kompetisi berformat tiga grup. Laskar Mataram, julukan PSIM, wajib melakoni 19 laga away.

Sekretaris umum PSIM Jogja Jarot Sri Kastawa menjelaskan, belum adanya kejelasan mengenai aturan kompetisi ini, memang membuat pihaknya was-was.

“Pembagian zona yang katanya tiga wilayah itu belum ada pertemuan yang membahas kepastian klub-klubnya siapa saja. Tapi kalau melihat jumlah peserta pergrup 20, jelas berat. Kalau kompetisi full kami harus 19 kali away,” ujarnya.

Jika kondisinya seperti itu, Divisi Utama akan lebih berat dari ISL apabila ditengok dari jumlah pertandingan. Sebab setelah fase grup tentunya ada babak knock-out untuk menentukan juara. “Jelasnya bagaimana kami kira saat manager meeting akan didetilkan,” imbuhnya.

Kemudian mengenai anggaran, Jarot juga mengungkapkan, siapapun yang nantinya menjadi Wali Kota Jogja mendatang, pihaknya mengharapkan adanya kepedulian terhadap PSIM. Sebab, meskipun PSIM klub profesional, namun juga membawa nama Jogjakarta. “Siapapun, kami tidak membeda-bedakan,” tuturnya.

Tak hanya itu, Jarot juga mengatakan, berbeda dengan tim-tim lainnya yang langsung bisa menggelar persiapan tim, PSIM juga masih harus memastikan homebase untuk menggelar partai kandang. Manajemen PSIM memutuskan masih akan memakai Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul sebagai tempat menjamu lawan-lawan Laskar Mataram.

“Karena itu kami akan melayangkan surat permohonan audiensi kepada bupati Bantul. Semua pihak, baik manajemen, panpel dan suporter harus bekerjasama agar kami bisa lancar dalam mengusahakan bisa kembali memakai SSA,” jelasnya. (riz/eri)