RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Kerugian terkait bencana hujan disertai angin kencang di Sleman mulai terdata. Kerugian material hampir mencapai Rp 500 juta. Kerugian material mencapai Rp 383 juta didominasi pohon tumbang. Menyusul urutan kedua rumah rusak akibat angin dan tertimpa pohon di berbagai kawasan di Sleman.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Supriyanto menuturkan, pohon tumbang mencapai 455 buah. Sementara untuk rumah rusak bagi kategori ringan, sedang, dan berat mencapai 327 rumah.

“Jumlah korban mencapai delapan orang, satu orang meninggal dunia atas nama Suwandi, 65, warga Sumberan Desa Sumberagung Moyudan. Catatan ini atas kejadian hujan disertai angin kencang pada tanggal 4, 5, dan 9 Januari,” jelas Joko, kemarin (12/1).

BPBD Sleman telah berkoordinasi lintas instansi. Salah satunya peminjaman alat pemotong kayu ke Dinas Lingkungan Hidup. Total ada 70 gergaji mesin yang digunakan untuk pemotongan pohon tumbang.

BPBD Sleman melibatkan 1.600 relawan dari 49 komunitas relawan. Joko menuturkan, keterlibatan relawan ini sangatlah penting. Kaitannya sebagai penanganan secara cepat dan optimal. Terutama bagi akses-akses publik yang terdampak langsung.

“Pembukaan akses ini juga kaitannya dengan penanganan lanjutan. Sehingga proses evakuasi dapat berjalan dengan optimal. Dari jumlah relawan tersebut tersebar di seluruh kawasan terdampak,” ujarnya.

BPBD Sleman juga mengalokasikan bantuan dana bagi korban. Dalam hal ini untuk korban orang dan rumah terdampak bencana. Bantuan ini telah diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 114 Tahun 2016 tentang Bantuan Bencana.

Khusus untuk bantuan BPBD Sleman melibatkan tim verifikasi. Anggotanya Dinas Kesehatan dan Dinas PUP-ESDM Sleman. Tujuannya agar bantuan tepat sasaran.

Rumah roboh total maksimal bantuannya Rp 30 juta. Rumah rusak berat Rp 12 juta dan meninggal dunia kami beri santunan sebesar Rp 10 juta. “Korban luka kami bantu biaya pengobatannya. Tentu setelah verifikasi Dinas Kesehatan dan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Sleman,” jelasnya.

Kerugian juga melanda PLN Rayon Sleman akibat hujan disertai angin kencang. Supervisor Teknik Adli Fauzi menjabarkan kerugian material mencapai Rp 200 juta. Rinciannya berupa instalasi yang rusak serta perbaikannya.

“Itupun masih perkiraan sementara, karena saat ini juga masih dalam proses perbaikan. Belum lagi hilangnya potensi energi tidak terjual sebagai potensi pendapatan. Jika dijumlahkan akan jauh lebih besar lagi,” jelasnya.

PLN Sleman juga melakukan perabasan dan pemotongan pohon. Terutama pohon besar yang berdekatan dengan jaringan listrik. Penebangan ini melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan BPBD Sleman sebagai pelaksana tupoksi.

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIJ I Nyoman Sukanta mengajak warga Sleman lebih waspada. Terutama terkait perubahan cuaca yang mengarah pada hujan disertai angin kencang.

BMKG memprediksi puncak dari hujan Januari hingga Februari. Saat ini terpantau sedang terjadi Angin Muson Asia. Inilah yang menyebabkan intensitas hujan disertai dengan angin kencang.

Ini berdasarkan kondisi angin di lapisan 850 mb menunjukkan adanya angin baratan dan pertemuan angin di atas Pulau Jawa. Ditambah dengan kelembaban yang mencapai 80 persen. “Intensitas rata-rata curah hujan bisa diatas 50 mm/hari dengan angin kencang kecepatan diatas 45 kilometer perjam,” jelasnya.

Sementara prediksi terjadinya angin puting beliung tidak terprediksi. Sebab, sifat dari angin ini sangat lokal. Durasi terjadinya angin puting beliung juga terbilang singkat dan mendadak. Hanya saja warga perlu waspada terutama jika ada awan gelap tebal di langit.

“Puting beliung itu beda dengan angin kencang. Kalau kasus selama ini angin kencang yang menyerang. Tapi dari sisi kerusakan bisa hampir sama tergantung kecepatan anginnya,” ujarnya. (dwi/ila/ong)