RADARJOGJA.CO.ID – Sosialisasi Perda Kota Jogja No 1 tahun 2015 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kota Jogja 2015-2035 ternyata belum masif. Buktinya, dalam masyarakat masih khawatir akan adanya gedung pencakar langit di sekitar Tugu Pal Putih.

Padahal, untuk membangun gedung pencakar langit di sekitar Tugu tersebut harus mengantongi izin mendiri bangun-bangunan (IMBB). Itu keluar pastinya harus sesuai dengan Perda RDTRK yang satu-satunya Jogja sebagai kota se-Indonesia memiliki.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Edy Muhammad mengatakan, di kawasan Tugu, sesuai peruntukannya memang sebagai lokasi perdagangan dan jasa. Tapi, dalam perda tersebut sudah diatur ketinggian maksimum untuk bangunan perdagangan dan jasa maksimal 32 meter.

“Ya sekitar delapan lantai, tidak mungkin ada gedung pencakar langit di sana,” ujar Edy.

Dalam ketentuan perda, untuk bangunan yang ketinggian lebih dari 32 meter, harus mendapat persetujuan dari Wali Kota Jogja dan Komandan Lapangan Udara Adisutjipto. Bukan hanya itu, karena berada di kawasan cagar budaya, bangunan baru yang dibangun juga harus mengikuti aturan.

“Karena berada di kawasan khusus juga ada aturan khusus untuk gedung yang dibangun di sana,” jelasnya.

Aturan khusus yang dimaksud Edy yaitu bangunan harus diberlakukan ketentuan pandangan bebas (sky line) dengan sudut 45 derajat dari ruang milik jalan di seberangnya. Dengan aturan tersebut, bangunan tidak bisa langsung menjorok ke jalan. “Supaya bangunan tidak tinggi di pinggir jalan, tapi masih ada ruang sky line,” jelasnya.

Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Rifki Listianto mengatakan, kecemasan warga Kota Jogja terkait penataan di kawasan Tugu bisa diantisipasi jika konsep penataan sudah disosialisasikan. Rifki meyakini penataan di sana tidak akan menenggelamkan Tugu Pal Putih.

“Biar bagaimanapun itu ikon Kota Jogja, yang membuat wisatawan datang ya karena Tugu Jogja itu,” ungkapnya.

Rifki juga mendukung langkah yang diambil Satpol PP Kota Jogja yang berani menyegel pembangunan hotel yang menyalahi aturan. Menurut dia, hal itu bisa menambah kepercayaan warga bahwa di Jogja tidak ada pelanggaran dalam pembangunan.

Menurut politikus PAN itu, persoalan selama ini karena ada keragu-raguan dalam menegakkan perda. “Kalau maksimal tinggi 32 meter ya harus dipastikan 32 meter,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumya, ikon Jogjakarta, Tugu Pal Putih, tengah menjadi buah bibir di media sosial (medsos). Terlebih dengan munculnya sebuah gambar tiga dimensi (3D) yang memperlihatkan Tugu Jogja setinggi 15 meter yang tampak kecil dibandingkan bangunan hotel dan mal di sekelilingnya.

Postingan dari akun Twitter @Jogja_Uncover itu bukanlah gambar maket resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Melainkan, sebuah gambar yang dibuat oleh pemilik akun, Ahmad Zaki. Gambar itu untuk menunjukkan kalau di kawasan Tugu banyak dibangun hotel akan menenggelamkan keberadaan Tugu Pal Putih.

Menurut Ahmad, gambar buatannya itu sebagai bentuk kegelisahan, jika nantinya Tugu dikelilingi bangunan pencakar langit. Dia berharap, sebagai warga Jogja, kawasan Tugu tidak kehilangan kekhasannya. Tugu tetap menjadi ikon budaya, dan tidak tersentuh dengan pembangunan kawasan yang asal-asalan. (pra/eri)