RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) dan Heroe Poerwadi (HP) mendapat dukungan dari Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Kota Jogja. Dalam Pilwali 2017 nanti, RKI Jogja siap menggalang 4.500 suara kaum perempuan untuk memenangkan HS-HP.

Ketua RKI Kota Jogja Wahyu Tusi Wardani mengungkapkan, pihaknya mempercayai paslon nomor urut dua itu siap menjalankan aspirasi perempuan. RKI juga menitipkan program ketahanan keluarga pada mereka selama menjadi pemimpin Kota Jogja 2017-2022.

Dalam deklarasi yang dibacakan, mereka mendukung HS-HP mewujudkan Kota Jogja jadi kota religius. “Fokus pembinaan keagamaan dan bebas buta huruf Alquran,” ujarnya dalam deklarasi di Oemah Putih, kemarin (12/1).

Selain itu, RKI juga mendukung HS-HP dalam menjadikan perempuan sebagai pilar ketahanan keluarga melalui pemberdayaan ekonomi. Juga dalam mewujudkan Jogja sebagai kota ramah anak dan keluarga.

Mereka berharap dalam kepemimpinan HS-HP mendatang, Kota Jogja bebas kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Termasuk langkah-langkah mencerdaskan perempuan dengan edukasi melalui PKK dan sekolah ibu,” tuturnya.

HS yang menerima langsung dukungan tersebut menyatakan, visi dan misi yang diusung memang menjadikan Kota Jogja lebih religius dan bebas buta huruf Alquran. Menurut dia, gerakan Magrib Gemar Mengaji yang sudah dicanangkan beberapa waktu lalu akan diintensifkan.

Untuk itu, HS mengajak keluarga membiasakan salat dan mengaji bersama setelah Magrib. “Selama saya memimpin juga tidak pernah rapat sampai Magrib, kalau mau rapat sekalian ba’da Isya,” ujarnya.

HP menambahkan, kegiatan pemberdayaan perempuan dan keluarga sudah sejalan dengan program pembangunan Kota Jogja nantinya. Terlebih perempuan, terutama ibu, merupakan motor keluarga.

Menurut HS, pembangunan Kota Jogja mulai dari membangun kampung yang berarti juga membangun keluarga. HP juga menyambut baik rencana pendirian sekolah ibu, yang menurut dia, sudah direncanakannya.

“Sekolah ibu itu bukan hanya untuk yang baru menikah atau punya bayi, tapi juga untuk pemberdayaan keluarga,” jelasnya. (pra/ila/ong)