RADARJOGJA.CO.ID – Belum genap satu bulan sejak diresmikan, beberapa infrastruktur yang dibangun di kawasan pedestrian Malioboro sudah banyak yang lecet-lecet. Salah satunya bollard pembatas yang kondisinya lecet di beberapa bagian.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Rani Sjamsinarsi mengatakan, kerusakan pada street furniture menjadi bahan evaluasi. “Kami akan lebih gencar memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait fungsi-fungsi apa yang dibangun di sana. Jadi harus dipelihara bersama,” ujarnya.

Misalnya saja terkait pemasangan bollard. Rani menjelaskan, fungsi utama bollard memang untuk pembatas, sehingga sesuatu yang bentuknya lebih lebar tidak bisa masuk. Karena pedestrian, lanjut Rani, peruntukannya bagi pejalan kaki, bukan untuk lalu lalang gerobak atau kendaraan roda dua.

Selain sebagai pembatas, 413 unit bollard yang dipasang juga sebagai media mempercantik kawasan. Bollard-bollard itu memiliki desain unik dengan ikon-ikon Jogja Istimewa. Ada pula 68 unit bollard berbentuk bulat.

Rani menuturkan, disadari sejak awal pedestrian Malioboro akan jadi milik publik yang masing-masing memiliki keinginan berbeda. Dia pun memaklumi jika tahap pertama ini mengundang banyak komentar. Namun, dia juga meminta kepada warga untuk bisa menjaga kawasan pedestrian Malioboro.

“Untuk pemeliharaan bukan hanya menjadi kewenangan pemprov saja, tetapi juga pemkot. Apalagi Pemkot sudah memiliki Perda PKL dan Perda Parkir,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, saat ini sedang mencermati dua perda yang sudah ada tersebut. Apa saja yang masih kurang, kalau sudah bagus bagaimana dengan penegakannya, kalau kurang maka pemprov akan memperkuatnya. “Tapi kalau perda-nya ada celah maka perlu disempurnakan. Kemungkinan akan kami perkuat melalui Perdais Tata Ruang,” ujarnya. (dya/eri)