RADARJOGJA.CO.ID – Desa-desa terdampak bandara masuk dalam peta rawan dalam Pilbup 2017 Kulonprogo. Mengantisipasi hal tersebut, Polres Kulonprogo menerapkan skema pengamanan khusus.

“Desa Palihan dan Glagah, masih terjadi penolakan proyek bandara. Penolakan masih berlangsung meski pelepasan hak dan pembayaran ganti rugi sudah dilakukan,” kata Kapolres Kulonprogo AKBP Nanang Junaedi usai menggelar apel pasukan Operasi Mata Praja di Mapolres Kulonprogo, Kamis (12/1).

Desa-desa yang masuk wilayah kerawanan utama perlu diterapkan skema pengamanan khusus. Yakni penambahan jumlah personel yang berjaga di tempat pemungutan suara (TPS). Setiap TPS akan dijaga dua polisi dan satu linmas.

“Umumnya kan tiap dua personel polisi plus satu linmas menjaga dua TPS. Ini untuk mengantisipasi munculnya gangguan,” jelas Nanang.

Dikatakan, di Desa Glagah ada beberapa pedukuhan yang rentan gangguan. Di antaranya Pedukuhan Kretek, Bapangan, Macanan dan Sidorejo, dan Pedukuhan Kragon (Desa Palihan).

Sejauh ini kondisi masih kondusif. Namun, bias saja muncul provokasi atau black campaign. Saat ini masa kampanye masih berlangsung hingga masa tenang sebelum hari pencoblosan 15 Februari 2017.

“Pada hari pemungutan suara saya akan terjunkan 700 personel. Sebanyak 450 personel pengamanan 937 TPS di 12 kecamatan, mulai disebar H-1 pencoblosan. Sisanya, standby untuk kontijensi dan patroli cipta kondisi,” kata Nanang.

Kapolsek Temon Kompol Setyo Heri Purnomo siap menjalankan skema standar pengamanan yang diterapkan Bagian Operasional (Bagops) Polres Kulonprogo. “Memang masih ada masyarakat yang menolak bandara,” kata Setyo. (tom/iwa/mar)