Sementara kota Jogjakarta, yang hingga kini terkenal dengan slogan “Jogjakarta Berhati Nyaman” ternyata juga sudah terbukti jika dikaitkan dengan munculnya beberapa Obyek Wisata Kuliner yang beraneka ragam. Objek Wisata Kuliner itu tersebar di Daerah Istimewa Jogjakarta dan kehadirannya ibarat jamur tumbuh di musim hujan.

Artinya, slogan yang tadinya berbunyi : Jogjakarta Berhati Nyaman, maknanya juga bisa bergeming menjadi Jogjakarta Berhati Nyam-Nyam. Beberapa Objek Wisata Kuliner yang tersebar di seluruh penjuru D.I. Jogjakarta, itu banyak digandrungi, baik para turis domestik maupun turis mancanegara. Waow…, Jogjakarta memang Isihmewah…!

Sudah saatnya kita sebagai warga Jogja, khususnya para pelaku bisnis kuliner, segera membangun sebuah Gate atau Pintu Gerbang ataupun Gapura yang tiap memasuki kawasan Obyek Wisata Kuliner di Jogjakarta, hendaknya diterakan sebuah papan nama dengan tulisan: TAMU HARAP LAPER! Insya Allah, dengan ide sebuah plang bertulisan sederet kalimat yang terkesan unik dan kocak itu, so pasti bakal menambah pundi-pundi pendapatan daerah. Minimal bisa dijadikan fotobooth sekaligus selvie bagi para tamu yang berkunjung di Daerah Istimewa Jogjakarta.

Selain itu, bila kita sedang dimabuk cinta, kita pasti bakal teringat dengan pepatah Jawa yang bunyinya: Witing tresno jalaran seko kulino. Nah, kini saatnya pepatah itu diganti dengan tulisan berbunyi: Weteng tresno jalaran seko kuliner, lantaran masyarakat kita dewasa ini banyak yang sedang dimabuk kuliner. Terkesan sederhana, tapi akan menjadi mulia jika sikon alias situasi dan kondisinya pas.

Maka tak heran, jika kita bangga menjadi WNI alias Warga Negara Ing NgaJogjakarto alias Jogja. Bukti lainnya, mungkin Anda masih teringat dengan salah seorang turis terpidana mati kasus narkoba asal negara Filipina, Mary Jane. Hingga kini ia masih betah berada di hotel Prodeo Wirogunan Jogjakarta. Apabila kita teliti secara cermat, ternyata nama Mary Jane itu secara kebetulan mirip dengan nama mendiang juru kunci Gunung Merapi yang terkenal di jagad raya, siapa lagi kalo bukan, Mbah Marijan. Mungkin nanti, di usianya yang makin hari makin renta, so pasti Mary Jane juga bakal menyandang gelar “Mbah” seperti, Mbah Marijan. Kelak dia akan disebut, Mbah Mary Jane, hehehe!

Artinya yang namanya Jogja sudah sepantasnya menyandang sebutan sebagai Gairah Istimewa Jogjakarta. Karena Jogja bagi pelancong juga bisa memiliki makna NjuJog..saja. (***/man/eri)