JOGJAKARTA benar-benar merupakan Daerah Istimewa. Karena terbukti kata Jogjakarta memiliki banyak Unique Selling Point dibanding kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sebagai contoh, kota Jogjakarta bisa disebut dengan kata utuh, Jogjakarta. Namun bisa juga dengan penggalan kata, Jogja.

Sementara kota-kota lain tidak bisa. Misalnya, Kota Semarang, bila kita sebut dengan penggalan kata, Semar, so pasti maknanya akan berubah menjadi penyebutan salah satu nama tokoh wayang dalam Punokawan. Lalu Kota Jakarta, bila kita sebut tidak secara utuh, atau dengan penggalan kata, so pasti maknanya bakal berbunyi: Thiiiittt…! Bila ditayangkan di televisi, karena makna tersebut bakal diedit oleh editor. Maksudnya, diralat agar tidak kotor maknanya, hehehe! Kemudian kata Kota Muntilan, bila kita sebut dengan penggalan kata Muntil, Ups…, so pasti jadi tak bermakna sekali.

USP alias Unique Selling Point lainnya. Bila kita cermati nama-nama makanan khas yang ada di Daerah Istimewa Jogjakarta, juga memiliki ciri khas tersendiri dibanding kota lain di seluruh penjuru negeri ini. Pasalnya, dari 1 Kotamadya dan 4 Kabupaten yang ada di D.I. Jogjakarta, nama-nama makanan khasnya selalu diawali dengan inisial huruf yang sama, yaitu huruf “G”, misalnya :

  1. Kotamadya JOGJAKARTA : makanan khas yang terkenal, terbukti diawali dengan inisial huruf G, yakni GUDEG.
  2. Kabupaten BANTUL : makanan khas yang terkenal terbukti diawali dengan inisial huruf G, yakni GEPLAK.
  3. Kabupaten GUNUNGKIDUL : makanan khasnya yang terkenal terbukti diawali dengan inisial huruf G, yakni GAPLEK.
  4. Kabupaten KULONPROGO : makanan khasnya yang terkenal terbukti diawali dengan inisial huruf G, yakni GEBLEK.
  5. Kabupaten SLEMAN : merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Jogjakarta yang memiliki paling banyak makanan khas yang terkenal terbukti diawali dengan inisial huruf G, yakni : Gedhang Goreng, Gedhang Godhog, Gorengan Tempe Bacem, Gorengan Tahu Bacem, dan masih banyak lagi lainnya. Kira-kira betul, enggak?