RADARJOGJA.CO.ID–Banyaknya pohon tumbang perlu diantisipasi sedini mungkin. Caranya, dengan memotong secara berkala pohon rindang di lingkungan masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ mengimbau instansi maupun warga, berpartisipasi mengantisipasi terjadinya bencana akibat cuaca ekstrem.

“Dalam penanggulangan bencana sifatnya bukan responsif lagi, tapi partisipatif,” tandas Kepala BPBD DIJ Krido Suprayitno, Selasa (10/1).

Krido mengatakan, di DIJ saat ini banyak pohon-pohon besar yang difungsikan sebagai perindang dan pelestarian lingkungan. Baik di wilayah permukiman maupun area publik. Namun, ketika cuaca ekstrem seperti ini tidak dipungkiri jika keberadaan pohon rindang perlu lebih diperhatikan. Apalagi jika pohon tersebut berusia tua dengan kondisi yang sudah lapuk.

“Karena pohon rindang memiliki kerentanan, masyarakat harus paham kalau harus dipangkas. Sehingga pelestarian tetap terjaga, risiko bencana juga berkurang,” ujarnya.

Sementara itu, kewaspadaan terhadap bencana juga dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja. Salah satu yang diwaspadai BPBD Kota Jogja yaitu kemungkinan terjadinya angin kencang, yang tidak hanya menyebabkan pohon roboh, tapi juga baliho yang tumbang.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Agus Winarto mengatakan, potensi terjadinya angin kencang merata di 14 kecamatan di Kota Jogja. Tapi, khusus di pusat kota, pihaknya mewaspadai kemungkinan angin kencang yang mnenyebabkan tumbangnya baliho.

“Yang di pusat kota kan banyak baliho besar, dalam forum informal bersama dinas terkait sudah saya sampaikan untuk mengecek kembali konstruksi baliho,” ujar Agus dalam rapat kerja bersama Komisi C DPRD Kota Jogja.

Selain baliho komersial, baliho yang merupakan alat peraga kampanye (APK) Pilwali 2017 juga menjadi perhatian. Terlebih tahun lalu, sudah ada korban jiwa karena tertimba baliho APK. “Sudah saya telepon mas Wawan (Ketua KPU Kota Jogja Wawan Budianto), untuk mengecek kembali kekuatan baliho, termasuk melubangi baliho,” ujarnya.

Selain baliho, Agus juga mewaspadai keberadaan pohon besar yang bisa tumbang terkena angin. Pada tahun lalu terdapat dua korban jiwa karena tertimba pohon besar di sekitar Gembira Loka Zoo. Menurut dia, masyarakat mulai menyadari potensi bahaya pohon tumbang, sehingga sudah banyak yang mengajukan bantuan pemangkasan pohon.

“Kita juga mengimbau saat hujan deras dan angin kencang tidak memaksakan berkendara, apalagi berteduh di bawah pohon,” pesannya.

Di luar angin kencang, potensi bencana lain di Kota Jogja, menurut Sekretaris Dinas Kebakaran Kota Jogja itu adalah luapan air. Tiga sungai besar di Kota Jogja menjadi perhatian, tapi khusus Sungai Code yang berhulu di lereng Merapi, menjadi perhatin khusus.

Karena itu, pos pemantauan di Ngentak akan lebih diefektifkan, agar bisa membedakan luapan air dari Merapi yang membawa material dan tanpa material. Dari simulasi terakhir, jelas dia, luapan air tanpa material dalam 48 menit sudah sampai wilayah Kota Jogja. “Yang dengan material malah lebih cepat, 43 menit sampai kota,” ungkapnya. (dya/pra/eri)