RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Uang rupiah tahun emisi (TE) 2016 yang diresmikan pertengahan Desember 2016 lalu, dinilai lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Tak hanya itu, desain uang baru ini diklaim tak mudah untuk dipalsukan.

Kepala Kantor Perwakilan BI DIJ Arief Budi Santoso mengungkapkan, uang desain baru ini lebih ramah bagi semua pengguna. Antara lain adanya color shifting, rainbow feature, latent image, ultraviolet feature, blind code, dan rectoverso.

Blind code pada uang rupiah yang baru lebih ramah bagi penyandang tuna netra. “Perubahan desain pada bentuk kode tuna netra berupa efek rabaan (tactile effect) untuk membantu membedakan antara pecahan dengan lebih mudah,” ungkapnya.

Pada uang baru, efek rabaan berupa garis, semakin besar pecahan rupiah maka semakin sedikit garis sejajarnya. “Itu dibuat di kiri dan kanan, misal uang Rp 100 ribu itu ada dua garis sejajar,” ujarnya saat sosialisasi di Kantor Perwakilan BI DIJ, kemarin (9/1).

Arief mengungkapkan, untuk pencegahan dan menanggulangi uang palsu, dirancang dengan teknologi canggih yang tidak hanya berfungsi sebagai pengaman saja. Tapi juga memiliki sisi estetis. “Yang baru belum ada yang palsu, kalau bisa janganlah,” tandasnya.

Terkait dengan sebaran uang uang rupiah lama yang dipalsukan, dari data tiga tahun terakhir trennya memang menunjukkan peningkatan. Pada 2014 ada 1.974 lembar, pada 2015 meningkat jadi 3.039 lembar, sedangkan pada 2016 kembali naik menjadi 3.766 lembar. Meningkatnya peredaran uang palsu karena ada temuan-temuan dalam jumlah yang cukup besar, dan yang paling banyak dipalsukan yakni uang pecahan Rp 100 ribu.

“Kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui saluran penukaran uang ke daerah-daerah maupun perbankan,” ujarnya.

Kasir II/Asisten Manajer Unit Operasional Kas Kantor Perwakilan BI DIJ Rudianto mengatakan, penyebaran uang baru berdasarkan catatan hingga Jumat (5/1) tercatat sudah ada Rp 20 miliar lebih yang beredar. Dengan pecahan komposisi terbesar yakni pecahan Rp 50 ribu yakni sebanyak Rp 8 miliar lebih, disusul pecahan Rp 100 ribu sebanyak Rp 5 miliar, sedangkan pecahan Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu sudah lebih dari Rp 2 miliar.

“Kalau kemarin-kemarin uang pecahan seribu sempat sulit ditemui di peredaran, namun kali ini sudah lebih aman karena penyebaran pecahan seribu sudah cukup banyak, sampai kemarin sudah sampai Rp 200 juta lebih,” ujarnya. (dya/ila/ong)