RADARJOGJA.CO.ID-Masih ingat cerita Sunan Bonang dengan salah satu santrinya Loka Jaya. Saat itu, Sunan Bonang hendak dirampok. Tapi, dengan kebijaksanaan sang sunan, akhirnya Loka Jaya malah menjadi salah satu dari sembilan wali songo, Sunan Kalijaga.

Cerita perjalanan antara guru dan murid itu, menurut Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIJ Suwandi Danu Subroto malah menjadi resep jitu untuk menyelesaikan aksi klithih. Asalkan, semua pihak bersabar. Karena tak bisa seperti mengembalikkan telapak tangan.

Kisah preman Loka Jaya yang berasal dari keluarga berada dan memiliki nama asli Raden Said, tapi justru memilih menjadi berandalan merupakan kisah inspiratif. “Tidak ada yang bisa menghentikan aksi Loka Joya, termasuk ayahnya sendiri,” kisahnya.

Tapi kisah kelam Loka Jaya berhenti ketika bertemu dengan Sunan Bonang. “Sunan Bonang berhasil menjinakan Loka Jaya, bahkan membuatnya menjadi salah satu wali yang termasyhur dengan nama Sunan Kali Jaga,” lanjutnya.

Menurut Suwandi pendekatan yang dilakukan Sunan Bonang pada Loka Jaya, yang saat itu hendak merampoknya, harusnya juga bisa diterapkan saat ini. Tidak hanya menaklukan sifat gali pada Loka Jaya, tapi bahkan bisa mengubahnya menjadi Sunan Kali Jaga yang menjadi salah satu penyebar Islam termasyhur di Jawa.

“Apa yang bisa kita perlajari dari Sunan Bonang ini merubah dari hal yang buruk menjadi baik,” jelasnya.

Untuk perubahan tersebut, menurut dia, tidak bisa instan. Terlebih dengan kondisi saat ini. Salah satu yang disarankannya adalah revitalisasi bahasa Jawa. Dirinya meyakini jika hal itu terlaksana, tidak hanya membuat orang Jawa fasih berbahasa Jawa tapi juga akan merubah perilakunya.

Suwandi berharap pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) saat ini tidak hanya untuk pertunjukan saja, tapi juga merevitalisasi bahasa Jawa. “Pelajaran bahasa Jawa jangan hanya di radio setiap setangah jam, kalau itu dipraktekan dampaknya akan luar biasa,” ujarnya memberi contoh siaran salah satu radio di Kota Jogja.

Sementara itu anggota DPD RI Afnan Hadikusumo menyoroti tentang peran keluarga dan masyarakat. Pendiidkan bagi anak, tidak hanya cukup di sekolah saja, tapi jug di rumah dan lingkungan. Dirinya melihat aksi klitih yang kebanyakan dilakukan di luar jam sekolah, menandakan perlunya peran kelauarga dan masyarakat.”

Awalnya pendidikan karakter dimulai dari rumah, kemudian membentuk lingkungan yang baik dan kondusif serta sekolah yang layak belajar,” jelasnya.

Anggota DPD RI dari DIJ itu juga menyoroti terkait dengan peredaran minuman keras dan narkoba. Menurut cucu pahlawan nasional Ki Bagus Hadikusumo itu perilaku klitih pelajar di DIJ itu, sedikit banyak dipengaruhi miras atau narkoba. “Biasanya mereka berani itu karena pengaruh miras atau narkoba,” ujarnya. (pra/eri)