Banjir Pesanan Menjelang Imlek

Kesibukan terlihat di sebuah rumah di Tukangan, Tegalpanggung, Jogja. Tepatnya di rumah milik Sulistyowati, 71, produsen kue keranjang. Menjelang perayaan Imlek rumah produksinya dibanjiri pesanan.

VITA WAHYU HARYANTI, Jogja

TAHUN baru China atau Imlek menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu bagi masyarakat Tionghoa. Tahun baru, semangat pun ikut baru. Pernak-pernik bernuansa merah juga sudah menghiasi beberapa pertokoan.

Kesibukan di sejumlah produsen kue keranjang di Jogja juga sudah terlihat. Salah satunya di rumah produksi kue keranjang milik Sulistyowati. Dia menyiapkan sedikitnya 200 kilogram kue keranjang yang sudah dikemas setiap harinya.

“Ya pesanan memang banyak, tidak hanya untuk wilayah Jogja saja,” ujarnya ditemui kemarin (9/1).

Sulis, sapaannya, menuturkan, dia mulai memproduksi kue yang terbuat dari tepung ketan ini sejak pagi, sekitar pukul 6.00 hingga menjelang malam. Dia bahkan harus dibantu oleh delapan karyawan untuk menyelesaikan pesanan kue keranjang yang biasanya untuk sesaji dan hantaran ini.

Walaupun perayaan Imlek masih beberapa minggu lagi, Sulis mengaku harus menyetok kue keranjang buatannya. Sebab, seminggu sebelum hari H pesanan akan diambil. Terlebih proses produksinya memakan waktu hingga delapan jam.

“Prosesnya lama, sehingga harus disiapkan jauh-jauh hari,” ungkapnya.

Sulis menjelaskan proses pembuatannya, mulai dari mencampur adonan, mengukus, hingga menjemur kue keranjang. Setelah diangkat dari pengukusan, kue keranjang harus dijemur kerena air dari kukusan yang menempel pada adonan harus dihilangkan.

“Kalau cuaca tidak mendukung, hujan misalnya, akan memakan waktu lebih lama lagi untuk penjemurannya,” tambahnya.

Satu kue keranjang dijual seharga Rp 12 ribu. Kue tersebut biasanya digunakan untuk sesaji di kelenteng maupun di rumah. Selain bisa dimakan langsung, kue keranjang juga bisa disajikan dengan digoreng terlebih dahulu.

Kue keranjang yang berbentuk bulat ini juga memiliki makna tersendiri seperti simbol kekeluargaan yang terikat tanpa batas. Selain itu, tekstur yang lembut dan kenyal menggambarkan keuletan, kegigihan, serta daya juang yang tinggi. “Keawetan kue ini menyimbolkan relasi yang terjalin awet dan berkualitas,” tuturnya. (ila/ong)