RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Dua pelaku penyeludupan satwa liar melalui Bandara Adisutjipto, Jogjakarta Yudhistira Friman Syah, 27, dan Veto Yudhanto, 25, terancam hukuman lima tahun penjara. Dari 71 hewan yang akan diseludupkan, sejumlah satwa tergolong dilindungi.

Kasubdit Tipiter Direktorat Kriminal Khusus Polda DIJ AKBP Bakti Andriyono mengatakan, keduanya terbukti berusaha melintaskan satwa liar ke luar Indonesia tanpa dokumen resmi. Pihaknya menerapkan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya sesuai pasal 40 ayat 2 Jo 21 ayat 2 a dan c.

“Ancaman hukuman lima tahun dan denda Rp 100 juta,” jelas Bakti saat memberikan keterangan di Balai Karantina Kelas II Jogjakarta, kemarin (9/1).

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh penyidik PNS balai karantina, kedua pelaku beserta barang bukti diserahkan ke Polda DIJ.

Kepala Balai Karantina Kelas II Jogjakarta Wisnu Haryana menjelaskan, dari 71 hewan yang akan diseludupkan sejumlah satwa tergolong dilindungi. Satwa yang dilindungi yakni biawak cokelat, biawak Maluku, kadal lidah biru, dan soa payung. Sementara satwa lain yang akan diseludupkan yakni kura-kura, ular phyton, dan katak daun.

Dia menjelaskan, puluhan reptil dan amphibi tersebut semuanya tanpa disertai dokumen resmi. Padahal, untuk mengurus proses penerbitan dokumen kesehatan karantina, tidak begitu sulit.

Mereka, hanya perlu mengurus dokumen dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) kemudian dari balai karantina akan melakukan pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik, klinis kesehatan dan kesesuaian jumlah.

“Satwa-satwa itu bisa dilintaskan ke luar negeri asalkan dokumen lengkap,” tegasnya.

Sayang, upaya tersebut tidak dilakukan oleh kedua kakak beradik warga Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Keduanya, mencoba mengelabui petugas dengan memasukan hewan-hewan itu ke dalam bungkusan gudeg yang terbuat dari bambu. Ada delapan bungkusan yang telah disiapkan untuk mengelabui petugas.

“Di dalam bungkusan itu, diberikan kain berlapis. Jadi kalau dicek, terlihat seperti orang membawa gudeg,” jelasnya.

Karena gerak-gerik keduanya mencurigakan, petugas meminta pelaku untuk membuka salah satu bungkusan. Awalnya didapati sejumlah bayi ular phyton di salah satu bungkusan. Setelah dicek, didapati seluruh bungkusan itu berisi hewan.

Dijelaskan, karena berjenis satwa liar, pihak karantina berkoordinasi dengan BKSDA dan Stasiun Karantina Ikan Jogjakarta. Dari koordinasi yang dilakukan, kedua tersangka belum memenuhi subtansi pasal 7 UU Nomor 16 Tahun 1992. “Oleh karenanya kami serahkan ke Polda DIJ untuk penyidikannya,” jelasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, upaya penyeludupan berhasil digagalkan oleh pihak sekuriti Bandara Adisutjipto, pada Minggu siang (8/1). Saat itu, Aviation Security yang bertugas di Screening Check Point II (SCP II) Terminal B Adisutjipto mendapati dua penumpang Airasia QZ 7557 yang akan berangkat menuju Bangkok, Thailand dengan transit dulu di Bandara International Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sejumlah satwa yang akan diseludupkan melipuputi lima ekor ular, 20 ekor kura-kura, 9 ekor katak, delapan ekor kadal, 20 ekor biawak, dan 9 ekor soa payung. (bhn/ila/ong)