RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Tren perceraian di Kabupaten Bantul kian memprihatinkan. Itu terlihat dari tingginya angka perceraian yang ditangani pengadilan agama (PA) setempat sepanjang 2016. Jumlahnya mencapai 1.371 perkara. Meningkat 2,5 persen dibanding 2015, sebanyak 1.363 perkara.

Humas PA Bantul Ahsan Dawi mengungkapkan, kasus perceraian didominasi pengajuan cerai (gugat cerai) istri. Jumlahnya mencapai 941 perkara. Sedangkan cerai talak (diajukan suami) sebanyak 430 perkara. “Tapi tidak semua perkara diputus oleh hakim. Kami tetap mengutamakan proses mediasi,” tutur Ahsan, Senin (9/1).

Dikatakan, hingga akhir 2016 PA hanya memutus 1.286 perkara. Terdiri atas 903 kasus gugat cerai dan 383 cerai talak. Sebagian besar pemohon berusia 30-40 tahun. “Ini tentu jadi ‘PR’ bersama untuk menekan tingginya perceraian,” lanjutnya.

Banyak faktor yang melatarbelakangi perkara perceraian. Mulai perselisihan terus menerus, salah satu pasangan meninggalkan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dari berbagai persoalan tersebut, faktor perselisihan paling mendominasi. Terutama, perselisihan yang yang bermula dari perselingkuhan.

“Atau karena adanya pihak ketiga,” beber hakim madya pratama itu.

Dari 1.371 perkara yang ditangani PA, lanjut Ahsan, 60 di antaranya melibatkan abdi negara. Mulai aparatur sipil negara (ASN), personel TNI, hingga Polri. Angka perceraian melibatkan abdi negara menurun disbanding 2015 dengan 424 perkara.

“Penyebabnya juga hampir sama. Didominasi perselisihan terus menerus,” urainya.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih prihatin dengan tingginya angka perceraian di Bumi Projotamansari. Kendati begitu, Halim yakin fenomena ini tidak disebabkan faktor ekonomi. Melainkan lebih karena faktor belum matangnya psikologi masing-masing pasangan. Juga, karena minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama.

“Sehingga mereka mudah membuat keputusan fatal (cerai),” ungkapnya.

Terkait perceraian di kalangan ASN, politikus PKB ini menengarai ada banyak sebab. Tapi, faktor kian terjaminnya kesejahteraan ASN -lah yang diduga paling mendominasi.

“Seorang ASN perempuan cenderung tidak begitu bergantung kepada suaminya,” tambah Halim mengilustrasikan. (zam/yog/mar)