RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Bencana angin kencang dan hujan deras bertubi-tubi menimpa warga Sleman. Pemkab mengalokasikan dana Rp 5,8 miliar untuk penanggulangan bencana selama 2017. Termasuk untuk kegiatan evakuasi korban terdampak bencana dan perbaikan rumah hunian warga yang rusak.

Dari nilai anggarannya, angka tersebut terbilang sedikit. Dibanding dana belanja lainnya di APBD 2017. Kendati demikian, Bupati Sri Purnomo mengaku, alokasi anggaran telah dihitung berdasarkan kebutuhan dan kondisi kebencanaan di Sleman selama ini.

“Dana ini sifatnya luwes. Artinya, jika dirasa kurang akan ditambah di perubahan (anggaran). Akan ada evaluasi tengah tahun untuk penyesuaian jika memang dirasa kurang,” jelasnya.

Selain optimalisasi anggaran kebencanaan, Sri Purnomo juga menaruh perhatian terhadap peran relawan. Orang nomor satu di Bumi Sembada itu meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) lebih serius dalam mengedukasi relawan. Alasannya, peran relawan cukup krusial dalam penanganan bencana.

Sri berharap, edukasi penanganan bencana tak sekadar melibatkan relawan. Tapi juga masyarakat. Khususnya, warga penghuni kawasan rawan bencana.

“Jika warga memahami tindakan bencana tentu ini sangat bagus. Jadi langsung tanggap untuk tindakan awal. Sehingga bisa meminimalisir kerusakan dan korban jiwa,” tuturnya.

Kepala Pelaksana BPBD Joko Supriyanto mengungkapkan, sinergitas dan komunikasi menjadi kunci utama. Menurutnya, para relawan terus menjaga komunikasi dengan BPBD dan masyarakat sebagai bentuk pengawasan. Sehingga tindakan dan antisipasi dalam dilakukan secara cepat dan tepat.

“Tetap dalam koordinasi BPBD Sleman. Relawan menjadi garda terdepan yang mengabarkan dan melakukan penanganan,” kata bekas kepala Satpol PP itu.

Kedepan, Joko berencana memberikan pelatihan khusus bagi para relawan guna meningkatkan kompetensi dalam penanganan bencana.(dwi/yog/ong)