RADARJOGJA.CO.ID – Kasus perceraian di Gunungkidul cukup tinggi. Ternyata fenomena hampir cerai namun balikan lagi alias rujuk juga banyak. Alasannya, muncul kesepakatan bersama dalam membangun komitmen hidup berumah tangga.

Kasus rujuk bisa dianggap baik. Namun bila rujuk karena perempuan tak dalam keadaan situasi yang mendukung, tentu tetap menjadi ancaman bagi mereka dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Bagian Divisi Pendampingan Rifka Annisa Jogjakarta mencatat, total kasus kekerasan terhadap istri yang ditangani di Jogjakarta sebanyak 216 kasus. Dari total kasus tersebut, 188 kasus tidak masuk proses hukum.

“Menggambarkan bahwa sebagian besar klien KDRT tidak ingin menempuh proses hukum,” kata Manajer Divisi Pendampingan Rifka Annisa Jogjakarta Indiah Wahyu Andari, Minggu (8/1).

Indiah melanjutkan, dalam kasus tersebut, pihaknya juga mengamati kasus yang nyaris belum terpublikasi. Di mana sebagian besar korban KDRT ternyata ingin kembali pada pasangannya. Motivasinya, ada kesepakatan tidak saling menyakiti.

Kasus KDRT yang diproses hukum ada 12 kasus. Rinciannya, 1 kasus ingkrah, 10 kasus masih dalam proses, dan 1 kasus dicabut. Kasus pidana lainnya selain KDRT adalah kasus cyber crime, sebanyak 1 kasus. Namun kemudian dicabut. Kasus perdata yang masuk ke ranah hukum adalah cerai gugat sebanyak 10 kasus, dan cerai talak sebanyak 5 kasus.

Pada kasus cyber crime, suami cemburu pada istri lantaran main facebook. Kemudian suami menyebar gambar bugil istrinya di facebook. Kasus dicabut karena tekanan dari keluarga suami.

“Dari kasus yang tidak berproses hukum dan memilih couple konseling atau konseling berpasangan ada 11 pasangan. Di Gunungkidul ada 2 pasangan,” ujarnya.

Staf Humas dan Media Rifka Annisa Jogjakarta Niken Anggrek Wulan melanjutkan, faktor rujuk juga dipengaruhi pertimbangan anak. Juga keyakinan bahwa agama tak menganjurkan perceraian.

“Yang jelas ada belasan pasangan belum memutuskan berpisah. Namun sudah berkonflik. Bagaimana keputusannya, tergantung keputusan mereka nantinya. Jadi masih bisa berubah ke depan,” kata Niken.

Lebih jauh dikatakan, banyak yang ingin couple counseling, tapi salah satu pasangan tidak bersedia. Ada juga yang takut mengajak pasangan konseling. Selain itu, ada kemungkinan pesimistis sebelum mencobanya.

“Sebenarnya, kami ingin meningkatkan minat masyarakat konseling bersama pasangan. Dari sini, suami dan istri bisa melakukan konseling berpasangan untuk mencegah konflik dan kekerasan yang berulang,” ucapnya.

Data dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gunungkidul, jumlah perceraian masih tinggi dan menduduki posisi kedua terbesar di DIJ setelah Kabupaten Sleman. Pada 2015, Pengadilan Agama (PA) Wonosari mengabulkan gugatan cerai sebanyak 1.447 pasangan. Ini didominasi pasangan dekat dengan pusat kota. Kecamatan Wonosari tertinggi dengan 172 kasus, Semanu dengan 120 kasus, disusul Karangmojo sebanyak 116 kasus, dan Ponjong ada 110 kasus.

Sedangkan tahun 2016, PA Wonosari menangani lebih dari 456 perkara perceraian. Usai pernikahan kandas masih baru antara usia tiga hingga 10 tahun. Jumlah perceraian menurut umur, paling banyak kasus cerai antara usia 30 – 34 tahun. Kebanyakan permohonan perceraian datang dari pihak istri.(gun/hes)