RADARJOGJA.CO.ID – Berita hoax yang kerap bermunculan ternyata banyak terjadi di media sosial (medsos). Yang menambah miris, berita hoax tersebut berpeluang berasal dari Jogja. Sebagai kota pelajar, tentu keberadaan berita hoax tak hanya meresahkan. Tapi, juga membuat pegiat dunia maya juga kebingungan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) DIJ Rony Primanto menjelaskan, Jogja sebagai kota pelajar seharusnya bisa menjadi rujukan penggunaan medsos yang bijak. Bukan malah menyebarkan berita hoax. Ikut-ikutan menjadi buzzer tanpa memperhatikan validitas berita tersebut.
“Ada kemungkinkan berita-berita hoax itu berasal dari Jogja, itu yang kami waspadai,” ujarnya.
Pemblokiran atau menutup situs dan akun palsu, lanjutnya, bukan satu-satunya solusi dalam menangkal hoax. Solusi lainnya justru dengan edukasi menggunakan medsos secara bijak. “Mungkin masyarakat belum siap, meskipun dia mampu membeli gadget tetapi pengetahuan dan etika di dunia maya belum ada,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, fenomena penyebaran hoax sifatnya mengglobal. Karena itulah masyarakat Jogja tentu jadi bagian yang terpengaruh. Baik itu yang menyebar melalui internet seperti melalui Facebook, Instagram, Twitter, dan sebagainya.
Ataupun yang menyebar cepat melalui gadget lewat aplikasi chatting seperti WhatsApp, Blackberry Messenger (BBM), Line, dan lainnya. Karena tidak semua yang ada di medsos itu benar, menurutnya, warga harus sering kroscek.
Dia menjelaskan, yang namanya hoax itu bisa jadi sebenarnya adalah fakta, namun fakta itu dikurangi atau ditambahi. Adapula hoax yang isinya sama sekali tidak ada faktanya.
Makanya, untuk mengkampanyekan bijak di sosmed, Diskominfo menggandeng admin-admin media sosial (medsos) dan akun publik lainnya untuk melawan balik berita palsu.
“Tujuannya meredam penyebaran hoax baik di internet maupungadget melalui aplikasi percakapan. Hal tersebut sebagai bagian dari sosialisasi dan edukasi pada masyarakat agar bijakgunakan medsos,” ungkapnya.
Paijo (Paguyuban Pengelola Akun Publik Jogja) yang bekerja sama dengan Diskominfo untuk menangkal hoax menyambut antusias. Ketua Paijo Eko Nuryono mengatakan, fenomena hoax ini memang sudah berlangsung lama, namun beberapa bulan terakhir distribusinya cukup luar biasa.
“Para admin Jogja sudah punya kesadaran untuk selalu kroscek ketika ada berita masuk yang meragukan kebenaran kontennya,” ujarnya.
Eko menambahkan, dengan adanya Paijo upaya memutus distribusi hoax cukup efektif Selain itu, para admin juga berkomitmen ikut mendorong upaya edukasi masyarakat untuk lebih bijak dan pintar saat menggunakan medsos. “Kroscek itu jadi keharusan dan wajib,” jelasnya. (dya/eri)