RADARJOGJA.CO.ID – Niat Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi untuk melakukan reformasi di tubuh induk organisasi sepakbola di Indonesia itu menuai langkah berat. Selain ada tuntutan pemulihan status Persebaya Surabaya, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro, dari Sleman juga meminta keadilan dari Pangkostrad tersebut.

Terutama menyangkut dengan nasib pemain yang menjadi korban sepakbola gajah akhir 2014 silam. Kala itu, PSS Sleman dan PSIS Semarang, saling bermain mengalah demi menghindari Pusam Borneo FC yang dikabarkan sudah mendapatkan tiket lolos ke ISL.

Salah satu pemain korban sepakbola gajah, Anang Hadi berharap, kongres PSSI ada keputusan yang meringankan atas sanksi yang telah ia jalani. Saat ini, dirinya sudah menjalani lebih dari separo hukuman.

“Saya masih ingin bermain sepak bola lagi. Setidaknyadengan telah menjalani separo masa hukuman bisa menjadi pertimbangan untuk pengampunan hukuman,” ujarnya.

Mantan pemain PSS lain Eko Setiawan menitipkan nasib ke Manajer PSS Sleman Arif Juli Wibowo. Ia ingin, agar perjuangan Arif membuahkan hasil. Kongres PSSI yang berlangsung Minggu (8/1) juga membahas mengenai penghapusan atau keringanan hukuman pihak-pihak yang dinilai terlibat dalam sepakbola gajah.

“Menjadi pemain sepak bola impian saya selama ini. Saya masih ingin meniti karir di sepak bola Indonesia. Kami berharap Ketum PSSI yang baru bisa bijak melihat kasus ini,” ungkapnya.

Manajer PSS Sleman Arif Juli Wibowo mengatakan, pihaknya akan memperjuangkan nasib beberapa pemain, pelatih, dan official PSS untuk mendapat kejelasan tentang nasib mereka. Menurutnya, selalu ada harapan dan upaya yang bisa dilakukan, minimal mengupayakan keringanan hukuman agar mereka bisa kembali aktif di sepak bola.

“Akan kami perjuangkan nasib tim, pelatih, official, dan pemain agar segera mendapatkan kejelasan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, juga adanya perhatian dari asosiasi pemain dan pelatih untuk memperjuangkan pelatih dan pemain yang terhukum dari kasus tersebut. Sebelumnya, beberapa pemain, pelatih, serta official PSS dan PSIS Semarang dihukum karena diduga melakukan pengaturan skor saat kedua tim bertemu di 8 besar Divisi Utamadi Stadion Sasana Krida akhir 2014 lalu.

DariPSS Sleman, pelatih Heri Kiswanto, official Rumadi, dan Eri Febrianto menerima sanksi larangan beraktivitas di sepak bola nasional seumur hidup sejak 11 November 2014.

Sementara itu, pemain pencetak gol bunuh diri seperti Agus “Awank”, Hermawan, dan Riyono serta dua asisten pelatih Edi Broto dan Herwin Syahrudin dihukum 10 tahun. Kemudian, beberapa pemain lainnya juga mendapat sanksi hukuman lima tahun yaituRidwan Awaludin, Eko Setiawan, Anang Hadi, Mudah Yulianto, Moniega Bagus, Marwan Muhammad, Satrio Aji, dan Wahyu Gunawan. (riz/eri)