RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA—Iming-iming dijadikan model, lalu ditipu atau dicabuli, seperti dialami 10 pelajar di Sleman sebenarnya bukanlah modus baru. Meski begitu, modus tersebut tetap saja sering memakan korban.

Ketua Umum Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) DIJ Sari Murti Widyastuti menilai, jika fungsi orang tua dalam pengawasan dan bimbingan nilai-nilai kebaikan kepada anak berjalan baik, tentu kasus yang menimpa 10 pelajar di Sleman tidak akan terjadi. Terlebih pengawasan kepada anak dalam penggunaan gawai dan sarana teknologi informasi lainnya.

Sari Murti menyayangkan masih maraknya kasus pencabulan kepada pelajar. Apalagi jumlah korban lebih dari satu orang.

Menurutnya, saat ini telah terjadi pergeseran paradigm seiring mudahnya memperoleh akses informasi. Hal itu berpengaruh pada daya kritis dan rasionalitas anak-anak muda atau remaja. Apalagi, remaja zaman sekarang lebih suka pada sesuatu yang dianggap wah dan gemerlap. Salah satunya dengan hidup menjadi model. Nah, gemerlap hidup yang ditawarkan sebagai model inilah yang kemudian dijadikan jebakan oleh tersangka untuk mencari mangsa.

“Tentu saja tawaran itu menjadi sesuatu yang menarik dan terkadang menghilangkan kekritisan dan rasionalitas si anak itu sendiri,”ujarnya kepada Radar Jogja kemarin (6/1).

Media sosial (medsos) yang dengan mudah sekali dijangkau menggunakan handphone juga jadi bumerang jika si anak tidak memiliki daya kritis dan rasional lagi. Kondisi itu akan lebih parah jika tawaran menjadi model seperti yang menimpa 10 pelajar tersebut, malah didukung oleh orang tua mereka. Maka akan dengan mudah si anak mencari jalan untuk meraih mimpinya.

“Ditambah lagi, mungkin, bekal dari orang tua dalam bagaimana bersikap kritis dan menyikapi sebuah tawaran sangat kurang,” tutur ketua senat akademik Fakultas Hukum Atma Jaya Yogyakarta ini.

Sari Murti menuturkan, kasus tersebut harus dijadikan cermin dan evaluasi bagi masyarakat. Fungsi orang tua anak menjadi kunci dalam menjaga putra-putri mereka. Sari Murti menegaskan, jika sejak kecil sudah ditanamkan budi pekerti yang baik, serta pemahaman akan penggunaan perangkat teknologi, siapapun tidak akan mudah terhasut. “Saya kira tidak semudah itu merelakan, menggadaikan atau menjual kepada sesuatu yang ukurannya serba materi,”ujarnya.

Di sisi lain, Sari Murti justru mempertanyakan proteksi yang dilakukan para orang tua selama ini ketika membelikan dan membiarkan anak-anak mereka menggunakan handphone. Alasannya, di era sekarang tidak mungkin orang tua melarang atau tidak memberikan handphone kepada anak. Karena itu sama saja melawan arus perkembangan zaman.

“Makanya, para orang tua seharusnya mampu memberikan bimbingan dan pengawasan. Dan yang terpenting adalah membangun budaya pemahaman penggunaan teknologi itu secara lisan. Misal, dengan berdiskusi,” papar dia.

Pemerintah juga memiliki peran krusial dalam pencegahan tindak kekerasan seksual terhadap anak. Fungsi proteksi tetap harus dilakukan. Guna pemenuhan hak-hak anak. Termasuk pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan.

“Pemerintah juga harus punya program intervensi keluarga. Terutama pada keluarga baru. Misalnya dengan membantu mempersiapkan agar pasangan-pasangan muda siap membangaun keluarga dengan menjadi ayah dan ibu,” tutur Sari Murti. (dya/yog/ong)