RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN-Kelangkaan cabai di pasaran yang mengakibatkan harga melambung tinggi salah satunya akibat minimnya pasokan. Banyak petani cabai gagal panen akibat serangan hama patek atau antraknosa. Serangan hama ini menyerang semua varietas cabai, termasuk cabai rawit dan cabai keriting.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Widi Sutikno menjelaskan penyebab penyakit ini adalah anomali cuaca. Yakni, di tengah musim kemarau ternyata masih ada hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi. Akibatnya, kelembaban yang terlalu tinggi. “Patek ini sudah menjadi musuh utama para petani cabai. Bahkan bisa menyebabkan gagal panen,” jelasnya kemarin (6/1).

Karena itu, Widi mendorong petani melakukan pemantauan secara berkala. Untuk mendukung ini, petani harus mengetahui musim tanam yang tepat. Upaya ini bisa dilakukan dengan berkonsultasi kepada petugas penyuluh kecamatan. “Ke depan akan dilakukan gerakan pengendaliaan bersama. Untuk tahun lalu memang tidak optimal, karena hujan berlangsung sepanjang tahun. Akibatnya jadi lembab dan patek berkembang dengan subur,” ujarnya.

Ya, akibat gagal panen ini berimbas pada kelangkaan cabai di pasaran. Bahkan, di DIJ harga cabai rawit sempat menembus harga Rp. 100 ribu per kilogram. “Permintaan tinggi tapi ketersediaan di berbagai daerah menipis. Untuk saat ini yang bisa dilakukan adalah percepatan penanaman cabai. Agar bisa mencapai masa panen optimal di kurun triwulan pertama ini,” katanya.

Salah seorang petani cabai keriting Raharja, juga mengeluhkan patek. Petani cabai asal Wedomartani Ngemplak ini bahkan merugi. Dia hanya bisa memanen sekitar 25 kilogram cabai segar. “Menurun drastis hasil panennya, jadi jual ke tengkulak Rp 25 ribu perkilogram,” jelasnya.

Menurutnya, cabai keriting yang terkena patek tidak bisa dijual. Ini berdeda dengan cabai rawit masih bisa dijual, meskipun harganya sangat murah. (dwi/din/ong)