RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Dugaan kasus doping yang menimpa salah satu atlet DIJ terus bergulir. Kemarin (6/1), Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI) DIJ telah melakukan klarifikasi terhadap RW atlet yang diduga menggunakan doping,pelati,h dan pengurus PABBSI DIJ tempat atlet tersebut bernaung.

Sayangnya, setelah proses klarifikasi tersebut pihak BAORI belum bisa membeberkan hasil pertemuan tersebut kepada media. Mereka masihmenunggu surat resmi dari KONI pusat atau PB PON terkait kasus doping yang diduga menimpa salah satu atlet binaraga tersebut. Selanjutnya hasil klarifikasi dan surat keterangan resmi dari KONI Pusat tersebut akan dicocokkan.

Ketua BAORI DIJ Achiel Suyanto mengatakan pihaknya telah memintai keterangan semua pihak mulai dari atlet, pelatih, pengurus PABBSI hingga dokter KONI. Merekamenjelaskan semua kegiatannya terkait persiapan menghadapi PON Jabar mulai setahun, enam bulan, tiga bulan, sebulan hingga seminggu sebelum pertandingan. Di dalamnya juga termasuk obat, makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh atlet tersebut. “Hasilnya apa belum bisa kami ungkapkan di sini. Kami masih menunggu surat resmi KONI Pusat terkait kasus ini,” ujarnya setelah memimpin pertemuan.

Sebelumnya KONI Pusat berencana akan mengirimkan surat terkait doping tersebut kepada gubernur dan Ketum KONI DIJ. Selain itu juga akan diberikan penjelasan dari KONI Pusat terkait adanya kasus doping yang terjadi pada 12 atlet peroleh medali PON Jabar tersebut. Achiel menyebutkan, setelah surat diterima, nantinya hasilnya akan dicocokan dengan hasil klarifikasi yang sudah dilakukan oleh KONI dan BAORI DIJ. Dari situ kemudian bisa menjadi bekal untuk menentukan sanksi kepada atlet tersebut.

Namun Achiel juga mengatakan, jika nantinya KONI Pusat akan melakukan klarifikasi terhadap atlet yang diduga menggunakan doping, pihak KONI DIJ melalui bidang pembinaan prestasi dan dokter KONI akan melakukan pendampingan. Pihaknya berharap, sanksi yang dijatuhkan bisa memberikan efek jera namun tidak mematikan masa depan atlet. (riz/din/ong)