RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Penyelesaian hukum kasus kekerasan seksual terhadap anak kerap kali tak tuntas. Bahkan, tak sedikit perkara yang penanganan seolah berhenti di tengah jalan.

Hasil riset Rifka Annisa Women’s Crisis Centre selama 2015 menunjukkan, dari 45 kasus yang masuk ranah hukum, hanya 28 perkara yang proses hukumnya benar-benar berjalan.

“Sisanya berhenti tanpa alasan yang jelas,” ungkap Manajer Humas dan Media Rifka Annisa Defirentia One kepada Radar Jogja kemarin (6/1).

Hal itu diduga turut memicu masih tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak. Pada 2016 Rifka Anisa menangani 29 kasus serupa. Namun, tujuh kasus di antaranya tidak diproses lebih lanjut secara hukum.

Sementara dari 22 kasus yang masuk ranah hukum, 16 perkara telah diputus oleh pengadilan. Sedangkan empat kasus lainnya masih dalam proses persidangan.

Dikatakan, berhentinya proses hukum terhadap kesus pencabulan didorong oleh sejumlah faktor. Alasan yang sering muncul karena lemahnya bukti-bukti dan minim saksi. Bahkan, ada kalanya penyidik menerapkan pasal penjerat bagi pelaku. Ironisnya, ada pula penghentian proses penyelidikan atau penyidikan karena pihak korban mencabut berkas laporan. Menurut Defirentia, pencabutan laporan oleh korban kekerasan seksual merupakan bentuk minimnya pengetahuan masyarakat terhadap hukum. Tidak hanya itu, para korban kekerasan seksual juga terkadang enggan melaporkan peristiwa yang dialami secara cermat kepada pihak kepolisian.

“Kami melihat masih ada semacam ketakutan di masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan seksual ke ranah hukum,” kata perempuan berhijab ini.

Defirentia mengatakan, saat ini sebagian masyarakat masih menganggap bahwa proses hukum merupakan sesuatu yang rumit dan menghabiskan banyak uang.Belum lagi adanya ancaman dari keluarga pelaku. Hal ini kerap membuat nyali korban dan keluarganya ciut, sehingga berujung pada pencabutan laporan.

Selama 2016 Rifka Annisa melakukan pendampingan terhadap 39 korban kekerasan seksual. Sepuluh kasus di antaranya menimpa anak di bawah umur. Usia rata-rata korban 12-17 tahun. Dua korban mengalami pelecehan seksual dan 19 lainnya pemerkosaan.

Kasus terbanyak terjadi di Sleman dengan 14 perkara. Disusul Gunungkidul (10), Bantul (5), Kota Jogja (2), dan Kulonprogo (1).

Defirentia menegaskan, pendampingan korban terhadap proses hukum sedang dijalani sangatlah penting. “Terbukti, tujuh kasus yang dikawal Rifka Anisa mencapai putusan optimal sesuai prinsip keadilan,” ujarnya.

Hal yang pendukung dalam persidangan adalah catatan psikologis korban dan para ahli. Resume tersebut lantas disampaikan ke pengadilan sebagai bahan pertimbangan hakim.(bhn/yog/ong)