RADARJOGJA.CO.ID –Kantor Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Handayani Gunungkidul berupaya memberikan pelayanan terbaik pada konsumen. Namun dampak perbaikan sarana dan prasarana, berimbas tersendatnya aliran air.

Yusuf Adhitya Putratama, warga Baleharjo Wonosari mengatakan, keluhan aliran air PDAM dirasakan dalam dua bulan terakhir. Air hanya mengalir pada jam tertentu. Padahal pelanggan wilayah perkotaan tidak memiliki bak penampungan air kapasitas besar.

“Hingga kini, air PDAM hanya menyala pukul 24.00 sampai 04.00. Ketika bangun pagi air sudah mati. Kami tak memiliki bak penampungan ukuran besar. Air yang ada tidak cukup memenuhi kebutuhan seharian,” keluh Yusuf, Kamis (5/1).

Sebagai pelanggan, Yusuf berharap pelayanan PDAM bisa lebih baik lagi. Warga sudah maksimal membayar tagihan rekening air tepat waktu. Seharusnya managemen PDAM juga melakukan hal serupa.

“Ada warga yang kecewa karena air mampet. Mereka ada yang tak mau membayar,” ujarnya.

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkdul Isnawan mengakui, belakangan ini aliran air bermasalah. Ia mengklaim, semua hanya persoalan tekhnis dan bisa segera diatasi.

“Keran air PDAM mampet merupakan dampak dari penggantian pipa dari RSUD Wonosari hingga gedung DPRD,” kata Isnawan.

Selain itu, lanjut Isnawan, kendala lain juga akibat perubahan aliran air karena ada perbaikan. Akibatnya, semua wilayah tidak bisa bersamaan mengakses air. Ada satu wilayah mengalir 24 jam. Namun, di tempat lain hanya pada jam-jam tertentu. “Tarena ada pola perubahan aliran air,” ujarnya.

Persoalan yang lain muncul sebagai akibat pipa tersumbat sampah. Ia mencontohkan saat perbaikan pipa yang dilakukan pekerja. Terkadang saat menyambung pipa kadang pekerja tidak teliti, sehingga sampah ikut tertimbun.

“Ketika dihidupkan sampah masuk. Dampaknya seperti di Desa Baleharjo, beberapa hari air mampet. Padahal tekanan air tinggi,” terangnya.

Setelah dilakukan pengecekan, ada kebocoran pipa. Untungnya, semua persoalan berhasil dipecahkan. Saat ini tinggal mengkondisikan dan hanya masalah tekhnis dan bukan masalah gangguan air.

Soal PDAM belum mengalir 24 jam, Isnawan mengakuinya. Ia mempertimbangkan sisi efektivitas. Jika selama 24 jam tidak berhenti, beban listrik membengkak. Terlebih, penggunaan air oleh pelanggan juga tidak semalam suntuk.

“Ke depan PDAM terus berbenah. Tahun ini kami melakukan pemetaan terkait persolan air dengan sistem pemantau. Jadi, nanti bisa diketahui persoalan apa dan di mana, kemudian ditindaklanjuti,” paparnya.(gun/hes)