RADARJOGJA.CO.ID – SETELAH penangkapan terduga pelaku teror, nama Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo KH Yusuf Chlundori tiba-tiba muncul. Kabarnya, pelaku meneror wilayah Tegalrejo, yang notabene merupakan kawasan pondok pesantren, karena tidak suka dengan Gus Yusuf.

Bahkan sempat mencuat kabar, pelaku merasa sakit hati karena tidak didukung saat menjadi calon legislatif dari PKB.Menanggapi itu, Gus Yusuf mengakui bahwa terduga teror Haris Fauzi (HF), 45, pernah maju menjadi caleg PKB untuk daerah pemilihan Tegalrejo dan sekitarnya. Namun, itu pada 2004 silam.

Sekian lama berlangsung, dia merasa tidak ada persoalan yang berarti. “Saat itu nyalon anggota dewan pada 2004, sudah dua belas tahun berlangsung,” katanya.

Kala itu, Gus Yusuf dan Haris sering menggerakkan PKB bersama-sama. Kemudian saat pemilihan legislatif 2009, Haris berencana maju kembali menjadi caleg dari dapil Tegalrejo. Namun, sempat terjadi perbedaan pendapat di internal pengurus partai kecamatan Tegalrejo. Hingga akhirnya Haris tidak maju pileg melalui PKB.

“Sakit hati mungkin, karena itu mekanisme partai. Saya juga tak mungkin nyebut dia PKI seperti informasi yang beredar luas di masyarakat. Kepada lawan politik saja saya tidak mengumpat, apalagi tetangga sendiri. Bukan karakter saya,” tegasnya.

Gus Yusuf yang juga Ketua DPW PKB Jateng ini merasa kaget dengan beredarnya informasi yang mengaitkan dirinya dengan pelaku. Selama ini diakui, dia masih menjalin silaturahmi dengan Haris. Jika ada sesuatu hal, keluarga Haris juga biasa bertemu dengan Gus Yusuf. Haris dan Gus Yusuf merupakan satu angkatan ketika duduk di bangku sekolah dasar.

“Saya menyesalkan sampai terjadi seperti ini,” jelasnya.

Meski sempat dikaitkan dengan terduga teror, suasana Ponpes API Tegalrejo dinilai tidak terganggu. Tidak ada sedikitpun perubahan pada santri-santri di sana. “Hari ini kaget saja, antara percaya dan tidak masyarakat sini,” ungkapnya.

Dia mengatakan, adanya peristiwa ini jadi momen untuk meningkatkan kewaspadaan bersama. Isu dan aksi teror bisa datang dari manapun. Kondisi ini bisa menjadi pelajaran masyarakat untuk selalu berhati-hati. “Kalau dia (HF) sakit hati, pribadi saya yang salah,” kata dia.

Gus Yusuf menyerahkan kasus ini kepada Kepolisian. Jika memang tidak terlibat jaringan teroris dan hanya persoalan pribadi, semoga bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Mungkin yang diperlukan ada upaya untuk efek jera.

“Tapi, jika saat pendalaman kasus nanti ada fakta lain, monggo. Saya serahkan ke aparat,” katanya. (ady/ila/ong)