RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Penyebab mahalnya harga cabai rawit terjawab. Minimnya stok komoditas perasa pedas itu akibat gagal panen di beberapa lokasi.

Petani cabai mengeluhkan penyakit patek atau antraknosa yang menyerang tanaman. Akibatnya, cabai membusuk dan mengering.

Penyakit yang menyerang segala jenis tanaman cabai ini sebenarnya bukan jenis baru. Namun, hingga sekarang memang belum ditemukan obat penawar yang tepat. Itulah yang menyebabkan suplai cabai ke pasaran tersendat, sehingga harga melonjak.

“Mungkin semacam virus, susah diobati dan sudah dari lama penyakit ini. Biasanya terjadi karena ada perubahan musim yang tidak menentu. Harusnya masuk musim kemarau, tapi pertengahan justru hujan terus,” ungkap Siti Muryanti, 46, petani cabai di Wedomartani, Ngemplak, Sleman kemarin (5/1).

Ditemui di kebun cabai miliknya di Dusun Sawahan Lor, Siti mengiyakan hasil panen yang anjlok. Dari total luas lahan 1.800 meter persegi hanya bisa menghasilkan 10 kilogram cabai. Padahal, dalam kondisi normal bisa mencapai 2-3 kuintal.