RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Dana Rp 19 miliar disiapkan untuk membeli tanah uruk lahan relokasi warga terdampak New Yogyakarta International Airport (NYIA). Dana tersebut bersumber dari APBD II Kulonprogo. Alokasi dana itu merupakan kontribusi pemkab kepada warga terdampak bandara.

Demikian disampaikan Kabid Cipta Karya DPU Kulonprogo Zahrom Asurawan kemarin. “Pengadaan tanah uruk sudah mulai tahap lelang,” kata Zahrom.

Pengurukan lahan relokasi diprediksi selesai akhir Februari 2017. Lalu dilanjutkan dengan pembangunan rumah warga. Koordinasi sudah dilakukan dengan PLN dan PDAM untuk pemenuhan listrik dan air.

“Pengadaan tanah uruk dilakukan sesegera mungkin. Agar warga bisa menempati rumah barunya dengan nyaman. Target kami lahan relokasi siap ditempati April 2017,” kata Zahrom.

Ada 276 KK (Kepala Keluarga) yang bakal menempati hunian baru di lahan relokasi. Jumlah tersebut dipastikan melalui pendataan secara menyeluruh. “Selain itu, warga terdampak bandara juga sudah memilih tipe rumah yang akan dibangun sesuai keinginan dan kondisi keuangannya,” kata Zahrom.

Ada tiga tipe rumah yang disiapkan. Yakni tipe 45, tipe 54, dan tipe 100. Tipe 45 dan tipe 54 paling banyak diminati. Namun, ada juga warga yang memilih tipe 100, khususnya warga yang menerima ganti rugi banyak.

“Berdasarkan perencanaan, pembangunan rumah diperkirakan membutuhkan dana Rp 2,2 juta per meter,” kata Zahrom.

Pembangunan lahan relokasi akan dilakukan dengan sistem pendampingan Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi Permukiman Berbasis Komunitas (Rekompak). Setiap kelompok terdiri 15 warga dengan lokasi rumah berdekatan.

“Kedekatan lokasi diharapkan mempermudah proses pembangunan yang dilakukan saling bergantian,” kata Zahrom.

Sedangkan uang ganti rugi relokasi yang masih dipegang PT Angkasa Pura I akan segera dimasukkan dalam rekening kelompok. Sebab pembelanjaan bahan bangunan juga akan dilakukan kelompok.

Sekda Kulonprogo RM Astungkoro mengatakan, pengurukan lahan relokasi merupakan kebutuhan yang diutarakan Rekompak. Lahan relokasi diuruk dan ditata hingga siap bangun. Semuanya akan dikembalikan kepada masyarakat bersama Rekompak.

“Sudah dilakukan pendekatan dengan masyarakat oleh Rekompak. Harapannya pembangunan dilakukan segera. Pemdes, pemkab maupun pemprov akan mendukung pembangunan infrastruktur pendukung lain,” kata Astungkoro. (tom/iwa/ong)