RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Harga cabai rawit di wilayah Sleman masih di awing-awang. Selama sebulan terakhir terpantau melonjak drastis. Puncaknya saat mendekati pergantian tahun 2016-2017. Saat itu tembus hingga Rp 100 ribu per kilogram.

Di pasaran, harga cabai rawit memang telah mengalami penurunan. Namun, masih tetap terbilang “pedas” bagi kalangan pedagang maupun konsumen.

“Saat ini masih di kisaran Rp 80 ribu per kilo,” keluh Urip Krisnani, pemilik warung makan di Tridadi, Sleman kemarin (4/1).

Masih tingginya harga komiditas penikmat rasa pedas itu membuat Urip mengurangi sambal. Masakan pedas pun menjadi tak selezat sebelumnya. “Karena stok di pasaran juga menipis. Barangnya juga masih langka di pasaran,” lanjutnya.

Menurut Urip, pedagang cabai di pasar tak berani menyetok dalam jumlah banyak.

Priyanto, 41, petani cabai asal Ngaglik, membenarkan minimnya stok produk di pasaran. Itu lantaran hasil panen yang tak sesuai prediksi. Cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi mengakibatkan sebagian tanaman cabai siap panen rusak. Beberapa lahan juga terserang hama. “Hasil panen sedikit, otomatis harganya lebih mahal dari biasanya,” tutur dia.

Sekretaris Daerah Sleman Sumadi mengatakan, kenaikan harga cabai dipengaruhi beberapa faktor. Gagal panen akibat cuaca ekstrem, salah satunya. “Masa panen tidak saat menjelang hari besar. Sehingga, ketika permintaan banyak, stok justru menipis,” ungkap Sumadi yang juga tim pemantau inflasi daerah.

Karena itu, Sumadi mengimbau petani menanam bibit cabai dengan perhitungan bisa panen saat menjelang hari besar. Dengan begitu ketersediaan produk terjamin. “Tentu tetap memperhitungkan pranoto mongso,” katanya. (dwi/yog/ong)