RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X ber-harap sosialisasi dan pembinaan pengelolaan sampah dan limbah tidak terhenti di tingkat pemilik warung pedagang kaki lima (PKL)saja. Tetapi, pembinaan hingga ke karya-wannya. Sebab, karyawanlah yang kesehariannya berada di lapangan

“Yang dididik bukan pemilik PKL lagi, tapi pelayan warungnya, yang bertugas membuang sampah, ha-rus bisa membedakan jenis sampah basah dan kering,” ujarnya di Kom-pleks Kepatihan, kemarin (3/1).

HB X meminta ke depannya yang diajak sosialisasi jangan hanya pemilik warungnya saja, tetapi karyawannya. Misalnya, membuang sampah yang ada lemak atau gajihnya harus di-sendirikan, karena tempat pem-buanganya juga sudah disediakan.

“Karena kalau yang di pinggir jalan itu kan untuk sampah ke-ring, ada sendiri yang untuk sampah basah,” ujarnya.

Tapi, menurutnya, pengunjung, baik warga Jogja sendiri maupun wisatawan, yang datang ke Ma-lioboro juga tidak semuanya memiliki kesadaran membuang sampah pada tempatnya. ” Karena pengunjung juga belum tentu buang sampah di tempatnya, waton war-wer,” ujarnya.

Terkait banyaknya pengemis dan pengamen di kawasan Ma-lioboro selama musim libur pan-jang kemarin, secara tegas HB X menginstruksikan Dinas Sosial DIJ menangkap merea. Kemu-dian dididik di Sewon, Bantul seusai dengan perda yang ada. Sedangkan tentang banyaknya pengamen, Raja Keraton Jogja itu menegaskan agar UPT Malio-boro menjadi lebih aktif dan jangan hanya jadi penonton semata.