RADARJOGJA.CO.ID-Uang ganti rugi yang diterima warga terdampak pembangunan New Yogkayarta International Airport (NYIA) di Temon ternyata tak menjadi jaminan untuk mencari tempat lain. Warga terdampak masih menempati lahan yang nantinya masuk kawasan bandara internasional tersebut.

Dukuh Bapangan, Desa Glagah, Suparjo menegaskan, belum satupun warganya yang meninggalkan rumahnya. Mereka masih menempati lahan dan bangunan yang sudah dibayar ganti ruginya oleh PT Angkasa Pura I. Bahkan, petani yang memanfaatkan lahan Pakualam Ground (PAG) juga masih menggarap lahan.

“Warga masih adem ayem saja. Semuanya masih seperti biasa,” kata Suparjo.

Belum adanya aktivitas pindahan dari warga ini, kata Suparjo, karena sampai saat ini belum ada instruksi untuk pengosongan dari Angkasa Pura maupun pemerintah desa. Meski, PT Angkasa Pura I memberikan batas waktu 1 Januari 2017 lalu, batas waktu warga menempati rumah dan lahannya.

Sikap yang sama juga dilakukan warga di wilayah terdampak lain. Warga yang menyatakan sudah siap, beralasan karena kesiapan tempat relokasi. Dari 50 kepala keluarga di Bapangan, 80 persen warga memilih opsi relokasi.

“Kesiapan relokasi menjadi kunci, kalau belum siap, kami mau pindah ke mana,” ujarnya.

Penginapan yang ada di sekitar Pantai Glagah juga belum mengosongkan bangunannya. Aktivitas penginapan pun masih berlangsung seperti biasa. Mereka masih melayani tamu yang akan menikmati suasana di Pantai Glagah.

Pengusaha penginapan berharap ada waktu lebih untuk pengosongan, mengingat belum ada kepastian lokasi pengganti. Mereka tetap berniat untuk mendirikan kembali usaha tersebut. Meski, tempatnya tak lagi di sekitar Pantai Glagah.

Ketua Pokdarwis Desa Glagah Sumantoyo mengatakan, pihaknya tetap akan pindah sesuai kesepakatan. Saat ini, pengusaha juga butuh kepastian lokasi pengganti untuk menjaga kelangsungan usahanya. Adapun konsep penginapan nantinya akan dibikin sesuai standar hotel, tidak lagi deretan kamar per kamar seperti sekarang ini.