RADARJOGJA.CO.ID – Tak cuma perilaku aji mumpung saja yang jadi sorotan. Perilaku pedagang kaki lima (PKL) Malioboro yang tak menjaga kawasan pedestrian yang baru diresmikan juga jadi buah bibir. Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono mengatakan, begitu responsifnya masyarakat, menunjukkan bahwa Malioboro sudah menjadi milik bersama. Jadi nantinya, pada pembangunan tahap dua pedestrian tidak hanya fokus pada fasad fisiknya saja. Tapi, juga fokus pada pemahaman semua pihak untuk saling menjaga.

“Jadi sumber pembelajaran untuk pemangku kepentingan yakni pemerintah, pebisnis, dan komunitas yang ada di Malioboro,” paparnya.

Diakuinya, saat ini pembangunan Malioboro masih dalam proses bertahap. Ke depan bisa jadi sebuah panggung terbuka, baik untuk kebudayaan dan pariwisata. Selama proses itu berjalan masih banyak yang bisa diperbaiki, misal penataan PKL berikut lapak-lapaknya.

“Dinas PUP-ESDM sudah membuat desain untuk menata lapak-lapak PKL. Harapannya PKL bisa merawat dengan mengelola limbah dan sampahnya,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas PUP-ESDM Ranni Sjamsinarsih mengatakan, setelah tahap satu selesai, masih ada tiga tahap lagi yang direncanakan selesai pada 2019. Revitalisasi Malioboro masih berlanjut ke tahap kedua. Rancangannya meliputi dari Pasar Beringharjo hingga Titik Nol Kilometer (sisi timur). Kemudian dari Kejaman hingga Titik Nol (sisi barat). Sedangkan di depan Gedung BI akan dibangun toilet bawah tanah. “Gubernur kemarin sempat meminta ada percepatan untuk 2018,” ujarnya. (pra/dya/ila/ong)

Jogja Sudah Punya Perda Kepariwisataan, Tinggal Penegakkannya