RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri menaruh perhatian serius terhadap maraknya aksi klithih yang kian marak. Terlebih, aksi itu melibatkan remaja dan pelajar. Menurutnya, fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Jogjakarta. Tapi menjadi problematika kota-kota besar. Hanya, Jogjakarta patut menjadi perhatian semua pihak karena banyak orang tua asal luar daerah yang menitipkan anak-anak mereka untuk bersekolah di Kota Pelajar ini.

“Kekhawatiran dari orang tua yang ada di luar inilah yang menyebabkan kasus ini menjadi perhatian nasional. Karena itu, masalah itu akan menjadi prioritas kami di 2017. Kami akan tekan kasusnya. Bila perlu jangan ada lagi klithih di tahun ini,” ujarnya kemarin (2/1).

Tindakan preventif dilakukan dengan patroli pada jam-jam sekolah dan saat kepulangan siswa, serta malam hari. Dofiri menegaskan tak akan mentoleransi aksi gerombolan siswa yang tak ada hubungannya dengan kegiatan pendidikan.

Sedangkan upaya represif dengan memberlakukan hukuman tegas bagi setiap pelaku klithih. Termasuk, bagi mereka yang kedapatan membawa senjata tajam. Mereka diancam sanksi Undang-Undang Darurat.

“Kami akan ambil tindakan hukum tegas,” tandas jenderal bintang satu itu.

Direskrimum Kombes Pol Frans Tjahyono menambahkan, dari jumlah kasus kekerasan oleh pelajar, tujuh di antaranya diselesaikan dengan cara diversi. Sesuai dengan UU Peradilan Anak. Sisanya, tujuh kasus lain dilimpahkan ke pengadilan.(bhn/yog/ong)