RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Perayaan tahun baru 2017 di Desa Tayuban, Kecamatan Panjatan meriah. Bersemangat melestarikan nilai tradisi dan budaya, pemdes dan warga mengemas acara bertema Tayuban Fest. Festival yang kali pertama digelar itu berlangsung dua hari, Jumat-Sabtu (30-31/12). Rangkaian Tayuban Fest antara lain sarasehan budaya, lomba permainan anak tradisional, kirab budaya, pentas hadrah hingga kolaborasi pertunjukan wayang, ketoprak, dan sendratari.

“Festival ini sarana menggali potensi seni dan budaya Tayuban. Kami tampilkan semua, mulai seni kriya, lukis, tarian, pewayangan dan pedalangan, karawitan, ketoprak, hingga kuliner,” kata Kades Tayuban Muhammad Abdurrahman Wiyono, Sabtu (31/12).

Mengambil momen pergantian tahun, kegiatan ini melibatkan seluruh masyarakat. Menjadikan Tayuban sebagai Desa Budaya. Langkah ini juga menyambut bandara baru yang akan berefek positif pada pengembangan wisata.

“Nilai seni budaya sudah melekat di Tayuban dan kami berharap Tayuban mampu menjadi gerbang budaya Kulonprogo,” kata Wiyono.

Sebagai rintisan desa budaya, Tayuban memiliki sejumlah potensi. Sejumlah dalang ternama di DIJ berasal dari desa ini, sebut saja almarhum Ki Hadi Sugito dan Ki Sutono Hadi Sugito.

“Termasuk sejumlah dalang lain yang tak kalah kondang seperti Ki Widoguno hingga dalang muda Ki Bagas,” kata Wiyono.

Beraneka cagar budaya juga terdapat di desa ini. Di antaranya rumah joglo petilasan Pangeran Diponegoro sekaligus makam pamannya (Pangeran Sumonegoro). Ada masjid bersejarah Al Muhajirin dan aneka benda pusaka yang diyakini peninggalan era Mataram Islam.

“Kami coba kumpulkan semua elemen seni dan budaya dari semua aspek. Sehingga nanti Tayuban lebih siap sebagai desa budaya,” kata Wiyono.

Panitia Acara Tayuban Fest Arif Wiliadi mengatakan Tayuban tengah berbenah. Targetnya menjadi barometer seni Kulonprogo dan mampu menyedot kunjungan wisatawan. Festival kali ini mengambil tema Tayuban Mbangun Kayangan.

“Puncak acara digelar jelang pergantian tahun dengan pertunjukan wayang oleh dua dalang dalam satu kelir (Ki Widoguno dan Ki Bagas). Festival ini akan dijadikan tahunan,” kata Arif. (tom/iwa/mar)