Meriahnya Lampu Warna-warni, Suguhkan Mural Penuh Pesan Moral

Di tengah kerinduan terhadap suasana kota yang nyaman, kampung-kampung pinggir kali yang terkadang dipandang sebelah mata, justru masih menyimpan nilai-nilai keramahan warganya. Itulah kesan yang terasa saat menginjakkan kaki di kampung yang berada di pinggiran Kali Code.

VITA WAHYU HARYANTI, Jogja

WARGA Kali Code merayakan pergantian tahun dengan cara yang berbeda. Mereka berniat menyambut masyarakat dengan keramahan dan kenyamanan dengan kegiatan yang sederhana. Mereka menyuguhkan hasil karya berupa lampion hias yang berwarna-warni.

Ya, setelah sukses menggelar Festival Kampung Lampion pertama kali tahun lalu. Warga di Kampung Ledok Code RT 18/RW 04 bekerja sama dengan Komunitas Cemara kembali mengadakan kegiatan yang sama di penghujung tahun ini, dari 28 hingga 31 Desember.

Bertajuk FKL #2, gelaran kali ini mengusung tema Code Berhati Nyaman. Tak sekadar menyuguhkan kemewahan di tengah hingar bingar perayaan tahun baru, namun kesederhanaan dan kenyamananlah yang mereka berikan untuk pengunjung yang datang.

“Kegiatan ini menjadi salah satu cara meningkatkan kreativitas warga Kampung Ledok Code melalui karya-karya yang dihasilkan dan dipamerkan dalam FKL,” ungkap ketua panitia FKL #2 Yuli Wahyudi kemarin.

Yuli mengungkapkan, dalam gelaran di sepanjang kampung ini tidak hanya menampilkan lampion hias saja. Juga kerajinan buatan warga seperti tas rajut, gelang, dan pernak-pernik lain untuk suvenir.

“Sebenarnya warga di sini sudah lama memasarkan hasil kerajinan mereka salah satunya adalah lampion. Diharapkan dengan FKL ini bisa mengapresiasi apa yang mereka kerjakan selama ini,” jelasnya.

Makin menarik lagi, warga juga menyuguhkan mural di dinding-dinding rumah mereka. Mural yang digambar oleh remaja Kampung Ledok Code tersebut berisikan pesan yang mengundang perdamaian.

Pengunjung akan menyimak cerita tentang semangat pluralisme antarwarga Jogja yang multikultur. Ada juga cerita tentang desakan ekonomi dan usaha warga untuk terus hidup, serta sebuah cerita tentang merayakan kebebasan.

Selama kegiatan berlangsung juga digelar pentas seni anak dan penampilan akustik dari “Kota dan Ingatan”. Ada pula pergelaran nonton film indie bareng bertema anak-anak yang berjudul Maya, Boncengan, Say Hello to Yellow, Forest Ranger, dan Harap Tenang Ada Ujian karya pegiat film indie di Indonesia.

“Hari ini (kemarin) dipentaskan pula tari tradisional dari warga setempat dan penyalaan kembang api sebagai tanda pergantian tahun baru,” ujarnya. (ila/ong)