RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Predikat DIJ sebagai salah satu destinasi utama pariwisata di Indonesia dipertaruhkan. Jogjakarta memang masih jadi salah satu tujuan utama, terbukti dengan banyaknya wisatawan yang datang. Tapi, sayangnya sebagian pelaku pariwisatanya belum bisa menjadi tuan rumah yang baik.

Perilaku aji mumpung pada liburan akhir tahun, dengan menaikkan harga jamak ditemui. Di media sosial (medsos) kembali menjadi viral perilaku pelaku wisata di Alun-Alun Kidul Jogja yang menaikkan tarif. Sebelumnya juga ramai diperbincangkan PKL yang menaikkan harga makanan hingga tarif parkir yang ditentukan sendiri.

Menurut Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DIJ Udhi Sudiyono, perilaku aji mumpung menaikkan harga tersebut bisa menjadi kampaye negatif bagi pariwisata DIJ. Terlebih ketika sudah tersebar di medsos, yang bisa dibaca oleh seluruh warga dunia.

Udhi mengatakan, tidak mudah membangun image suatu objek wisata. “Meski mungkin itu oknum, tapi perilaku seperti itu akan menjadi kampanye negatif,” ungkapnya.

Udhi mengatakan, saat peak season liburan seperti ini, Jogja masih menjadi salah satu tujuan utama. Tapi dengan adanya perilaku negatif seperti itu, bisa membuat wisatawan tidak nyaman. Yang dikhawatirkan, pengalaman negatif tersebut akan diceritakan ke teman atau saudaranya, “Yang pasti buatlah wisatawan nyaman di Jogja, sehingga liburan mendatang ke sini mengajak teman atau saudaranya,” ungkap Udhi.

Untuk itu, pihaknya menyarankan supaya pelaku wisata dan pemerintah darah setempat bisa duduk bersama dan menentukan berapa kenaikan yng diperbolehkan selama peak season.