RADARJOGJA.CO.ID – RASANYA ada yang kurang jika wisatawan yang berkunjung ke DIJ tidak membawa pulang oleh-oleh khas. Mulai dari makanan hingga pernak-pernik. Khusus untuk makanan, bakpia masih jadi primadona. Pusat-pusat penjualan makanan isi kacang hijau ini tak pernah sepi pembeli.

“Omzet penjualan kami naik 50 persen, jika biasanya hanya sekitar 100 kotak pada hari biasa, pas liburan menjual 200 kotak per hari,” ungkap Marketing Bakpia Pathok 25 Erma Nurmiati kemarin (31/12).

Bahkan, pihaknya sampai menambah jumlah karyawan untuk membantu proses pembuatan bakpia. Sebabm permintaan naik sejak awal musim liburan sekolah, berlanjut liburan Natal dan tahun baru ini.

“Di pabrik ada sekitar 75 karyawan tetap, namun saat musim liburan ini kami tambah hingga 100 orang yang bekerja dari pagi sampai sore bergantian,” ungkapnya ditemui di pabrik yang berada di Jalan AIP 11 KS Tubun NG I/504, Jogja.

Terkait harga, momen liburan ini mengalami kenaikan. Biasanya dalam satu kotak berisi 15 biji dihargai Rp 30 ribu saja, sedangkan masa liburan dinaikkan Rp 5 ribu per kotaknya. Harga tersebut tidak menyurutkan minat pengunjung untuk membeli oleh-oleh tersebut untuk dibawa ke daerah masing-masing.

“Selain kumbu kacang hijau, kumbu keju, dan cokelat menjadi rasa favorit pengunjung. Varian baru seperti green tea, nanas, durian, dan ubi ungu juga mulai banyak diminati,” ungkapnya.

Salah satu wisatawan dari Jakarta, Junaedi, mengaku setiap datang ke Jogjakarta tidak lupa mampir untuk membeli oleh-oleh bakpia. “Kali ini beli 10 kotak saja buat dibagikan ke saudara-ssaudara di Jakarta,” ungkapnya siang itu.

Nasib berbeda dialami oleh penjual suvenir berupa kaus. Libur panjang akhir tahun ternyata tidak selalu membawa keuntungan bagi para pedagang, salah satunya di sentra kaus dan batik Rotowijayan.

Dibanding tahun lalu omzet penjualan mengalami penurunan hingga 30 persen. Salah satu karyawan toko kaos dan batik, Safa, mengatakan, dalam sehari saat libur panjang akhir tahun ini hanya memperoleh omzet sekitar Rp 5 hingga Rp 7 juta saja. Sedangkan tahun lalu sehari bisa mencapai Rp 10 hingga Rp 15 juta.

Menurut Safa, sepinya pengunjung diperkirakan karena berbagai macam hal seperti tidak adanya kantong parkir hingga faktor bencana. Selain itu, tidak semua pengunjung yang datang ke tokonya membeli dagangan yang dijual.

Di kampung Rotowijayan sejak dahulu memang dikenal dengan sentra kaus dan batik khas Jogja, saat libur panjang maupun akhir pekan kawasan tersebut selalu dikunjungi wisatawan yang berburu buah tangan khas. (ita/ila/ong)