RADARJOGJA.CO.ID-Kasus Klithih saat ini sudah berkembang sangat jauh. Istilah Jawa yang biasanya hanya digunakan untuk aktivitas keluar rumah sekedar mencari angin tersebut berubah menjadi pemangsa nyawa. Hal ini tentu saja menimbulkan keresahan di masyarakat.

Salah satunya Masyarakat Peduli Pendidikan (MPP) yang mendorong pemerintah dan aparat daerah untuk aktif menindak tegas. Apalagi, Fenomena klithih telah menggiring kalangan pelajar menjadi semangat gengster yang destruktif hingga memakan korban jiwa.

“Ini sudah darurat klithih. Seharusnya aparat bertindak dengan cepat,” jelas koordinator aksi Miftah Bahria Saadah di Titik Nol Kilometer Jogja, Sabtu (17/12).

Sejumlah spanduk dan poster mereka bentangkan. Tulisannya, antara lain, Save Jogja dari Darurat Klithih, Jogja Istimewa karena Pelajarnya, Pelajar Jogja Oye Klithih No Way, Ini Jogja Bukan GTA, Tugasku Belajar Bukan Keluyuran, dan Pelajar Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan.

Miftah menuntut aparat keamanan untuk menjamin rasa nyaman, aman, dan tenteram dalam masyarakat. Dia pun mendorong kepada aparat untuk menegkkan undang-undang lalu lintas dengan tegas. Yakni melarang siswa SMP dan SMA yang belum cukup umur untuk membawa kendaraan bermotor.

Selain penindakan, dia menyebut fenomena klithih bisa ditekan dengan menghidupkan kembali spirit tri pusat pendidikan. Di mana pendidikan dibangun mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri mengatakan, selain proses hukum yang tengah berjalan, sebagai bentuk pencegahan aparat mulai memperketat pengamanan di titik-titik sekolah. “Aparat akan melakukan pengawasan saat bubaran sekolah. Karena biasanya di sini kerawanan perkelahian antar pelajar terjadi,” jelasnya.

Jenderal bintang satu ini juga mengimbau kepada orang tua untuk benar-benar memberikan perhatian dan pendampingan. Bila anak keluar malam, harus diketahui tujuan dan keperluannya. “Jangan sampai orang tua dapat kabar anak di kantor polisi karena tidak mengetahui apa yang dilakukan di luar,” tandasnya. (bhn/eri)