RADARJOGJA.CO.ID – KULONPROGO – Target dimulainya pembangunan NYIA meleset. Tadinya, Angkasa Pura (AP) menargetkan ground breaking akhir November, namun karena pembebasan lahan belum klir, target tersebut bergeser menjadi awal Januari 2017.

AP sebagai pemrakarsa pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) juga akan segera mengosongkan lahan Paku Alam Ground (PAG) mulai 1 Januari 2017.

“Untuk pengosongan lahan PAG kami akan berkirim surat kepada kepala desa, hotel atau rumah yang tidak mengambil relokasi agar bisa segera mengosongkan lahan,” kata Project Manager Kantor Proyek Pembangunan Bandara NYIA R. Sujiastono di Balai Desa Glagah, Selasa (29/11).

Bagi warga yang mengambil relokasi, bisa bertahan hingga Maret 2017 sambil menunggu pemkab menyiapkan lahan relokasi. “Lahan PAG memang didahulukan, karena di lahan itu akan dibangun landasan pacu (runway) sepanjang 3.250 meter, termasuk sepadan landasan kanan dan kiri sekitar 500 meter kali 4 kilometer,” kata Sujiastono.

Runway harus datar dan rata, dan membutuhkan waktu lama. Ditargetkan pada 2019 sudah ada pesawat yang mendarat di NYIA. “Ground breaking targetnya juga Januari 2017. Kami akan lihat kondisi lapangan sambil menunggu konfirmasi presiden,” kata Sujiastono.

AP sebagai juru bayar sebenarnya tidak menghendaki konsinyasi. Karena menitipkan uang di pengadilan juga ada biayanya, sekitar Rp 800 ribu per bidang.

Maka, dia berharap pada hari terakhir pembayaran, sebisa mungkin warga yang masih memiliki sengketa waris (ada yang sutuju dan tidak setuju) segera menyelesaikannya secara kekeluargaan.

Sujiastono mengatakan warga yang tadinya memilih relokasi lalu memilih ganti rugi uang lalu ingin mengambil relokasi lagi, itu menjadi domain Pemkab Kulonprogo.

“Silakan berkomunikasi dengan pemkab. Sebetulnya kalau sudah dibayar uang sudah selesai, namun dalam hal ini pemkab niatnya menolong masyarakatnya untuk tetap mengambil relokasi demi keutuhan dukuh (pedukuhnya tetap ada),” kata Sujiastono. (tom/iwa/mar)