RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Kepolisian Sektor (Polsek) Prambanan menindaklanjuti informasi di media sosial (medsos) tentang temuan keset berisi kertas bertuliskan tulisan Arab dari Pasar Prambanan, Sleman. Keberadaan keset itu sempat menjadi viral dan menghebohkan jagat dunia maya, kemarin (28/11).

Saat melakukan penelusuran bersama pihak kecamatan Prambanan, aparat melakukan penggeledahan terhadap empat kios penjual keset. Dari situ, aparat mendapati sebuah keset berisi kertas yang bertuliskan tulisan Arab.

Kanit Patroli Polsek Prambanan Ipda Sudardi menjelaskan, telah mengamankan keset tersebut. Sementara itu puluhan keset lainnya disita, dan akan digunakan sebagai bahan penyelidikan.

“Kami cek dulu semuanya. Untuk sementara keset yang dijual ini kami amankan dulu,” jelas Sudardi di Pasar Prambanan.

Dia menjelaskan, akan menelusuri asal muasal keberadaan keset tersebut. Sebab dari pengakuan penjual, keset itu dipasok oleh seseorang. Setelah temuan keset di pasar itu, Polsek Prambanan berkoordinasi dengan polsek lain untuk menelusuri keberadaannya di pasar lain.

“Untuk mengarah apakah ini penistaan agama atau bukan masih harus diselidiki. Kami belum bisa memberi kesimpulan apapun,” terangnya.

Pemilik kios tempat ditemukannya keset bertuliskan tulisan Arab itu, Mantep mengatakan, keset-keset yang dijualnya dibeli dari salah seorang pemasok keliling. Dia pun tidak mengenali secara detail pemasok keset tersebut. Termasuk asal pemasok keset.

“Saya tahunya laki-laki yang mengantar. Datangnya juga nggak menentu kadang seminggu hingga dua minggu sekali. Kalau datang cuma ngecek barang,” jelas Mantep.

Dia mengaku tidak mengetahui bila keset yang dijual berisi tulisan Arab. Sebab terakhir membeli, dia diminta oleh pedagang keset tersebut untuk memborong barang dagangannya.

“Jumlah tidak sampai 20 buah. Dari yang saya beli saya jual kembali seharga Rp 5000 per buah,” terangnya.

Camat Prambanan Abu Bakar mengimbau kepada pedagang untuk teliti dan berhati-hati dalam membeli barang. Termasuk mengetahui asal muasal dan identitas pemasok barang yang akan dijual.

Keberadaan keset itu pertama kali di-posting di sebuah akun medsos. Kasus ini terungkap saat warga Kebon Dalem Lor, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah Rizki Nurfauzi menemukan kejanggalan pada keset miliknya. Saat terkena air, lapisan keset tersebut menampilkan potongan surat Alquran. Saat itu dia menyuci keset yang baru sebulan dibeli. Saat dibalik kena air, terlihat bayangan kertas dengan tulisan Arab.

“Jadi ketumpahan adonan roti lalu dicuci, Minggu (27/11) kemarin. Saat basah terlihat jelas bayangan tulisan arab. Lalu saya robek ternyata ada potongan surat Alquran. Kemudian saya bongkar dua keset lainnya. Yang satu sama, yang satunya lagi hanya koran biasa,” jelasnya
Anggota Pemuda Muhammadiyah Rifki Wahyu, 22, yang pertama kali dilapori oleh seorang rekan yang membeli keset itu, segera menyambangi Pasar Prambanan. Dia membeli dua buah keset. Setelah dilakukan pengecekan, hanya satu yang didapati kertas dengan tulisan Arab.

“Sepertinya yang warnanya agak merah muda ini yang isinya kertas bertuliskan ayat Alquran,” jelasnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo meminta masyarakat bijak dalam menyikapi kasus ini. Serta menjaga kondusivitas. SP, sapaannya, mengakui kasus ini sangatlah sensitif, sehingga perlu pendekatan dan penanganan khusus untuk mengungkap latar belakangnya.

Dia menegaskan ranah penyelidikan telah berlangsung. “Jika ada unsur kesengajaan pasti akan ditindak secara tegas,” tegasnya di Aula Bappeda Sleman, kemarin (28/11).

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sleman telah mengambil langkah strategis. Terutama mendekati dan memberikan imbauan kepada tokoh agama. Sementara untuk penyelidikan, Kemenag Sleman menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian.

Kepala Kantor Kemenag Sleman Zainal Abidin sudah menurunkan jajaran di tingkat KUA Prambanan. Berdasarkan data, terungkap memang ada potongan Alquran. Potongan ini ditemukan pada dua keset yang dibeli masyarakat.

“Kalau memang ada unsur kesengajaan, tergolong melanggar Pasal 156 KUHP. Ada upaya menimbulkan permusuhan dan menyebarkan kebencian. Bisa digolongkan sebagai penistaan agama,” tegasnya.

Meski begitu Zainal meminta agar masyarakat tidak terprovokasi. Dia mengimbau agar masyarakat tidak terhasut isu-isu perpecahan. “Mengimbau umat beragama di Sleman tidak terprovokasi. Cari sumber yang terpercaya dan jangan menelan informasi mentah-mentah,” ujarnya. (bhn/dwi/ila/ong)