JOGJA – Pertandingan Persiku Kudus melawan PS Benteng yang berkesudahan 4-0 untuk tuan rumah, Jumat (25/11) di Stadion Wergu Wetan Kudus diwarnai aksi kekerasan terhadap wasit. Pengadil asal Jogjakarta Cholid Dalyanto menjadi bulan-bulanan pemain tim tamu. Akibat dipukul dan diinjak pemain PS Benteng, Cholid mengalami memar di bagian wajahnya.

Kepada Radar Jogja, Cholid mengungkapkan, awal mula kejadian tersebut saat pertandingan memasuki menit 45 babak pertama. Ketika itu pemain PS Benteng nomor 8 melakukan pelanggaran kepada pemain Persiku. Ia melancarkan sepakan dengan mengambil bagian perut. Karena pemain tersebut sebelumnya sudah diganjar kartu kuning menit 24, maka kartu kuning kedua berlanjut merah.

BACA: Kasus Wasit Cholid Dalyanto, Pemain Kurang Pengetahuan Peraturan Permainan

BACA: Langsung Kembali ke Sekolah, Wasit Korban Penganiayaan Pemain PS Benteng

“Teman-temanya yang lain protes. Kenapa merah ? Jelas kartu karena mengangkat kaki terlalu tinggi dan membahayakan pemain lain,” ujarnya saat dihubungi, kemarin (27/11).

Setelah ia mengeluarkan pemain tersebut, beberapa pemain PS Benteng menyerangnya. Ia mengingat pemain nomor 16 menanduk kepalanya dan lagi-lagi ia ganjar kartu merah lagi. Ia masih saja dikejar dan dikerubungi pemain tamu yang mengenakan jersey warna kuning tersebut.

“Tetap dikejar saya berkelit. Tahu-tahu dari belakang ada yang memukul, saya jatuh. Pemain cadangan yang tidak diketahui asisten wasit masuk lapangan, menginjak kepala saya. Kena bagian pipi dan telinga. Sempat memar tapi sudah mulai baikan,” imbuhnya.

Ia lalu bangun meniup peluit panjang dan menuju ruang ganti wasit. Kemudian dia ditanya pengawas pertandingan mengenai kesanggupannya memimpin permainan babak kedua. Ia masih menyanggupi. “Kapten PS Benteng saya panggil. Setelah nomor 8 dan 16 yang sudah kartu merah, saya beritahu ada pemain yang harus saya kartu merah lagi yaitu nomor 24 dan 21. Dan nomor 14 pemain cadangan,” ujarnya.

Sehingga total hanya 7 pemain PS Benteng melawan Persiku. Saat itu posisi Persiku unggul 2-0. Sampai pada menit ke-79, salah satu pemain PS Benteng cidera dan tidak bisa melanjutkan pertandingan. Sementara jatah pergantian pemain telah habis. “Sesuai aturan pertandingan saya hentikan,” bebernya.

Setelah melapor pada pengawas pertandingan dan PT GTS, ia mengatakan, keempat pemain kecuali nomor 8 masing-masing dihukum larangan bermain selama dua tahun oleh panitia disiplin. “Beruntung setelah kejadian itu kondisi saya tidak ada masalah. Tidak ada yang retak atau patah tulang. Sabtu (26/11) saya masih bertugas wasit cadangan untuk Piala Suratin dan Minggu (27/11) sampai rumah masih selamat,” imbuhnya.

Mengenai pertandingan tersebut, PS Benteng sebenarnya hanya perlu hasil imbang untuk mengunci satu tempat di 16 besar. Sementara Persiku Kudus sudah dipastikan lolos dan hanya mengamankan juara grup. Namun karena kalah, PS Benteng tersingkir dan satu slot grup E ditempati Mamuju Utama.

Meskipun mendapat perlakuan kasar pemain, Cholid mengaku tidak kapok. Namun ia terpaksa tidak bisa melanjutkan bertugas menjadi pengadil di perdelapan final Linus dan Piala Suratin karena harus kembali ke Jogja. “Saya kemarin disuruh bertugas lagi. Kalau tidak di Kudus, Jepara ya di Jogja. Tapi saya izin karena sudah 10 hari di Kudus meninggalkan sekolah. Apalagi Senin (28/11) ujian semesteran,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai guru SMP tersebut.

Mengenai kejadian tersebut ia berharap di kemudian hari, pemain, official dan pelaku sepakbola bisa tahu dan paham peraturan law of the game. Menurutnya, apa yang ia lakukan di lapangan hanya untuk menyukseskan pertandingan. “Kami tidak ada kepentingan apa-apa dan hanya berharap aturan dan keputusan dapat diterima dan ditaati bersama,” harapnya. (riz/ong)