Beli Sepatu di Malaysia, Mau Latihan Harus Menginap Semalam

Setelah melalui perjalanan panjang, tim PS Nunukan, Kalimantan Utara sampai juga di Jogjakarta. Dua puluh pemain dan tiga official tim Piala Suratin itu tergabung dalam grup H yang bermain di Stadion Sultan Agung, Bantul. Anak-anak perbatasan itu akhirnya sampai ke putaran nasional.

Rizal SN, Jogja
Jidi, 16, kapten PS Nunukan berasal dari Kecamatan Lumbis. Mula-mula dia harus menempuh perjalanan darat ke Sebuku selama dua jam. Tak berhenti di situ, dia lalu harus naik speedboat ke Nunukan yang memakan waktu tiga jam.

Setelah itu bersama tim dari Nunukan ke Kabupaten Tarakan naik speed memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. “Setelah sampai pelabuhan dijemput ke Bandara Juwata, Tarakan untuk ke Balikpapan. Sempat delay lima jam, baru sampai Jogja, Sabtu (19/11) malam sekitar 20.00,” ungkapnya kepada Radar Jogja saat ditemui di Hotel Wisanti, Jalan Taman Siswa, Kota Jogja.

Ia salah satu pemain yang berasal dari Suku Dayak. Beberapa temannya ada sekitar empat yang juga berasal dari Dayak dalam tim. Mereka yaitu Hendi Wirandi, Engking, Domar Wiranto dan Juarin. Mereka bergabung menjadi dalam satu tim PS Nunukan. “Seleksi di Kaltara. Persiapannya cuma lima hari. Kebanyakan dari Kecamatan Lumbis, rata-rata SMA kelas satu dan dua,” imbuhnya.

Dari Lumbis ke Malaysia, kata Jidi, hanya sehari perjalanan. Termasuk perlengkapan sepakbola seperti bola dan sepatu dibeli di negeri tetangga tersebut. Selain lebih murah juga lebih dekat dibandingkan di Nunukan. Warga Nunukan memang kerap menyeberang ke Malaysia untuk aktivitas ekonomi.

Menurut Jidi yang juga didampingi teman-temanya dan juga Muhammad Asdar, persiapan timnya di Piala Suratin terbilang sangat minim. Ia bahkan harus menginap semalam jika akan mengikuti latihan dari tempat tinggalnya di Desa Labang, Kecamatan Lumbis ke Nunukan. Ia harus transit di Mansalong.

Selain itu, berbeda dengan lapangan di Jawa, lapangan di desa-desa mereka kurang layak. “Lapangan di sana keras, kalau di sini lebih lembek,” ungkapnya.

Selain itu, sebagai provinsi baru, sekolah sepakbola (SSB) di Kaltara juga masih asing. Ada tim sepakbola juga menurutnya masih kelas tarkam dan amatiran di Kabupaten Malinau.

Sebelum lolos mewakili Kalimantan Utara (Kaltara), PS Nunukan berhasil mengalahkan tim Kota Tarakan 3-0, kemudian 2-1 melawan Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Bulungan 1-0. “Final tanggal 23 September. Di Kaltara ada empat kabupaten dan satu kota. Satu kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Tidung tidak ikut,” ungkap Hendi Wirandi, pemain depan PS Nunukan.

Hendi juga mengatakan, daerah tempat tinggalnya belum semaju seperti di Jawa. Untuk menonton pertandingan sepakbola juga sulit. Sesulit mengakses sambungan listrik. Listrik hanya ada menggunakan tenaga surya atau mesin genset. “Kalau mau nonton sepakbola biasanya pakai layar tancap, yang sering itu kalau Timnas main. Pakai genset solar,” bebernya.

Namun dengan segala keterbatasan tersebut, anak asuh Rudi Saprani itu masih berharap bisa membawa nama baik daerah. Salah satunya dengan lolos ke 16 besar. Langkah pertama mereka sempat terganjal setelah ditekuk Persab Brebes 13-1. Persab jauh lebih unggul karena diperkuat beberapa pemain dari SKO Ragunan, Jakarta. Kondisi tersebut tidak lama diratapi. Laga kedua melawan tim asal Sulteng harus dimenangkan. “Menjadi laga hidup mati,” ujar Jidi.

Mengenai kekalahan sebelumnya, menurutnya karena kondisi fisik teman-temanya yang masih kelelahan karena perjalanan. Fisik mereka terkuras selama menempuh jarak Kaltara-Jogja. “Kami baru sampai malam, besok sorenya sudah main. Sempat mengimbangi 2-1, tapi setelah itu fisik drop semua,” katanya. “Bagaimanapun kami bangga dan senang, karena baru pertama kali ini ikut. Sudah masuk seri nasional penyelenggaranya lebih bagus. Kami masih optimis bisa lolos,” imbuhnya. (din/ong)