Herpri Kartun/Radar Jogja
TARI RITUAL: Tarian kuda lumping lakon Panji menjadi pembuka Saparan atau merti desa di Dusun Mantran Wetan, Girireja Nggugek, Ngablak, Kabupaten Magelang, kemarin (24/11).

Panji Jadi Pembuka Saparan di Lereng Andong
MAGELANG – Dinginnya hawa lereng Gunung Andong sejenak hilang ketika alunan gamelan dimainkan. Musik tradisi itu mengiringi keluarnya empat ksatria penunggang kuda lumping. Mereka adalah para ksatria pengawal Prabu Sewandana yang dikisahkan sedang mencari gadis pujaan hati bernama Dewi Sanggalangit.

Sambil menunggangi kuda lumping warna hijau, empat ksatria berlatih ilmu perang. Menggeleng-gelegkan kepala sambil melotot, kaki kiri diangkat, lalu tiba-tiba berlari dan berpapasan di tengah sambil mengadu pedang. Baru berlangsung sekitar 20 menit, tiba-tiba salah satu penari kerasukan.

Pawang dan warga langsung meraih pedang dan menyekap penari yang sudah berusia sekitar 50-an tahun itu. Agak bersusah payah, penari itu dibopong beramai-ramai dibawa masuk ke rumah dan diberi minum kembang, lalu dibacakan mantra-mantra pengobat.

“Ini tarian khas dari desa kami, Mantran Wetan. Tak sekadar tari, tapi ini ritual sakral. Nenek moyang kami yang mbabat alas di sini adalah pencipta koreografinya,” jelas Wanto, salah satu “orang pintar” atau paranormal setempat.

Walaupun ada yang kesurupan, alunan musik tak berhenti. Giliran sekarang keluar sosok bernama Singa Barong. Berbeda dengan karakter fisik Singa Barong Ponorogo, di sini bentuknya lebih mirip ular. Topeng kepalanya kecil, badannya panjang berupa kain coklat. Dimainkan tiga penari. Satu memegang kepala, dua orang di belakangnya sebagai perut dan ekornya.

Dikisahkan singa barong adalah musuh yang harus dikalahkan oleh Sang Prabu Sewandana sebagai syarat mempersunting Dewi Sanggalangit. Singa Barong menari, kepalanya naik ke atas dan ke bawah, badannya menggeliat ke sana-sini.

Singa Barong berhasil dikalahkan Prabu Sewandana dengan bantuan patihnya, Bujangganong. Uniknya, Bujangganong diperankan oleh anak kecil. “Para penarinya tidak boleh sembarangan. Mereka adalah keturunan dari nenek moyang langsung. Jika ada salah satu dari mereka meninggal harus digantikan oleh anak laki-lakinya. Jika tidak punya anak laki-laki, diturunkan ke saudara laki-laki atau menantunya,” jelas Padi, ketua paguyuban kesenian tradisi setempat.

Tarian kuda lumping lakon Panji ini merupakan pembuka di acara Saparan atau Merti Desa. Digelar mulai kemarin (23/11). Berada di Dusun Mantran Wetan, Kelurahan Girireja Nggugek, Ngablak, Kabupaten Magelang. Kesenian di desa ini cukup terkenal kebolehannya, dan masuk dalam keanggotaan Festival Lima Gunung.

“Saya sangat terkesan. Kesenian di Mantran Wetan memang ciamik dan nggeget. Selain tarian, saya betah live-in di sini. Warganya semanak dan welcome sekali,” ujar Mart Wha-Wha, salah seorang pengunjung berdarah Indo dari rombongan Timuran, Jogja.

Selain tari kuda lumping Panji, digelar rangkaian acara kesenian lainnya. Diawali dengan kirab tumpengan, pagelaran wayang kulit. Hari berikutnya akan digelar pentas tari-tarian seperti jathilan, leakan, topeng ireng, dan masih banyak lain. Acara Saparan ini digelar tiga hari, berakhir Jumat (25/11). (her/laz/nal)