Budi Agung/Radar Jogja
JADI: Seorang karyawan tengah membersihkan replika Prasasti Kayu Arahiwang di Ruang Paripurna DPRD Purworejo. Prasasti itu selama ini menjadi dasar ditetapkannya hari jadi Purworejo.

Giliran Para Guru Ingin Pelurusan Hari Jadi ,1.115 Tahun Dinilai Terlalu Tua
dan Tak Relevan dengan Sejarah
PURWOREJO – Berbagai elemen masyarakat terus menyuarakan ketidakcocokan menggunakan tanggal 5 Oktober sebagai hari jadi Purworejo. Menilik usia yang ada saat ini dinilai terlalu tua (1.115 tahun) dan tidak relevan dengan sejarah yang ada.

Tergabung dalam Komunitas Guru Peduli Purworejo, sejumlah guru yang berlatar belakang dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan di Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dindikbudpora) Purworejo meminta agar dilakukan peninjauan lagi terhadap penetapan tanggal tersebut.

“Sangat janggal usia Purworejo sudah setua itu. Dari buku-buku yang ada pun tidak ada ungkapan Purworejo dalam sejarah yang digunakan saat ini. Kata Purworejo itu baru muncul setelah era Cokronegoro I, kita harus mengakui hal itu,” ungkap Koordinator Komunitas Guru Peduli Purworejo Sutarno, kemarin (24/11).

Sutarno berharap Pemkab Purworejo menindaklanjuti usulan dari berbagai pihak yang menginginkan adanya peninjauan kembali atas ditetapkannya tanggal 5 Oktober sebagai hari lahir Purworejo. Dengan adanya pengakuan terkait hari jadi yang sebenarnya, akan menjadi spirit sendiri bagi pembangunan di Purworejo. “Yang penting ditinjau kembali. Apa pun hasilnya nanti kami akan menghormatinya,” tambah Sutarno.

Sebelumnya, seniman dan tokoh masyarakat pesisir Purworejo juga meminta adanya peninjauan kembali mengenai penetapan hari jadi Kabupaten Purworejo. Ketua Dewan Pendidikan Purworejo Kasito mengatakan, Prasasti Kayu Arahiwang yang menjadi dasar penetapan hari jadi, tidak memuat jati diri Purworejo di dalamnya.

Prasasti Kayu Arahiwang yang menuliskan tahun 901 merupakan prasasti yang dibuat pada masa Kerajaan Bagelen, yang kala itu dipimpin Dyah Balitung, di masa Mataram Kuno. Prasasti dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. (udi/laz/nal)