Keluarga Sartini Minta Perlindungan Polda DIJ
RADARJOGJA.Co.ID – SLEMAN – Setelah Adi Cahyono alias Diduk ditetapkan sebagai tersangka, berbagai upaya dilakukan oleh keluarga pelaku penganiayaan JM itu untuk menghentikan penyidikan. Salah satunya dengan mengajak “damai” melalui keluarga Sartini agar mau mencabut laporan.

Salah satu kerabat Sartini, Tanto menuturkan, setelah Adi Cahyono digelandang ke Mapolda DIJ, istri tersangka berusaha mencari Sartini. Karena tidak mengetahui keberadaannya, istri tersangka menemui anak kedua Sartini, DL,13, yang bersekolah di Modern Islamic School Solo.

“Anak itu ditawari Rp 15 juta oleh istri tersangka, namun anak ini menolak karena tidak mengetahui apa-apa,” jelas Tanto ditemui, kemarin (23/11).

Istri tersangka, jelasnya, juga mencecar pertanyaan terhadap DL. Akibat pertanyaan itu, DL merasa ketakutan dan memilih untuk tidak kembali ke rumahnya di Pucangsawit, Jebres, Solo.

“Akhirnya saya inapkan di rumah teman di kawasan Surakarta,” jelasnya.

Atas kejadian ini, Tanto mengajak DL dan kerabat lainnya ke Mapolda DIJ untuk mendapatkan perlindungan. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda DIJ kemudian mengantarkan DL ke shelter untuk mendapatkan keamanan.

Kanit PPA Polda DIJ Kompol Retnowati menjelaskan, kedatangan istri tersangka membuat DL takut. Apalagi, DL merupakan salah satu saksi yang menyaksikan kekejaman yang dilakukan tersangka.

“Langkah selanjutnya kami membawa saksi ke shelter. Bagaimanapun juga saksi ini kan memerlukan perlindungan,” jelasnya.

Sejauh ini, penyidik Polda DIJ telah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi. Namun, untuk saksi keluarga tersangka, masih belum ada satupun yang datang ke Mapolda DIJ. Istri tersangka sejatinya dipanggil ke Mapolda DIJ kemarin.

“Harusnya hari ini (kemarin) datang, namun nyatanya tidak hadir. Kemungkinan besok (hari ini) kami panggil,” jelasnya.

Sementara itu, aksi simpati masyarakat terhadap kasus yang menimpa anak Sartini, JM, 1,5 tahun mulai berdatangan. Setelah sebelumnya Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Jogja memberikan bantuan hukum dengan mengerahkan 100 pengacara, kini kelompok masyarakat memberikan bantuan materi berupa uang.

Diah, 46, warga Solo datang langsung ke unit PPA Polda DIJ untuk memberikan bantuan. “Bantuan ini untuk keperluan transport keluarga korban selama pulang pergi Solo-Jogja,” jelasnya.

Dia menjelaskan, sumbangan itu digalang secara sukarela dari berbagai komunitas. Salah satunya yakni komunitas grup taklim eks SMPN 1 Solo. Diah mengaku mengetahui kasus penganiayaan terhadap JM dari media sosial. Karena merasa tersentuh, dia bersama rekan-rekannya sepakat untuk menggalang bantuan.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang asisten rumah tangga asal Pucangsawit, Jebres, Solo, Sartini, 36, melaporkan penganiayaan yang dilakukan oleh majikannya, Adi Cahyono, terhadap anaknya yang masih berusia 1,5 tahun. Sejak periode Februari-September 2016, bocah berinisial JM itu mendapatkan berbagai perlakuan kekerasan.

Selama kurun waktu sembilan bulan, JM disiksa dengan cara dimasukkan ke dalam mesin cuci, kulkas, dan lemari. Bahkan balita itu disiram air panas di bagian kemaluan. Peristiwa itu dilakukan saat majikan tinggal di Klaten, Jawa Tengah dan Samalo, Jetis, Bantul. (bhn/ila/ong)