Harus Operasi Beberapa Kali, Biaya Tak Punya
Selasa, 1 November 2016, bisa menjadi momen yang tidak akan dilupakan pasangan suami istri Wahid Widodo, 39, dan Siti Maonah, 35. Warga lereng Merapi di Dusun Candigelo, Ngadipuro, Dukun, Kabupaten Magelang, ini melahirkan anak kedua dengan kondisi fisik tidak sempurna. Tidak memiliki bibir langit-langit, dan juga mata normal pada umumnya.

ADI DAYA PERDANA, Mungkid
Keluarga ini tidak pernah menduga akan melahirkan anak dalam kondisi fisik yang tidak utuh. Apalagi, suasana seperti itu tidak hanya sekali dirasakan. Anak perempuan pertamanya, juga melahirkan kondisi fisik yang hampir sama, pada lima tahun silam.

“Tidak pernah saya menduga sebelumnya. Melahirkan anak yang tidak memiliki bibir. Apalagi kali kedua terjadi lagi,” kata Siti Maonah.

Siti mengaku, saat di kandungan anaknya tidak memiliki gejala-gejala tertentu. Sesuai empat kali pemeriksaan USG, kondisi kesehatannya normal. Usia kandungannya pun cenderung normal, sekitar sembilan bulan. Namun, ia bingung bukan kepalang lantaran setelah melahirkan kondisi fisik anaknya tidak sesuai yang di benaknya.

“Awal saya takutnya melahirkan anak sama dengan yang sebelumnya. Dan ternyata sama. Yang pertama tahu itu ayahnya, (Wahid Widodo),” ujarnya.

Anak perempuan yang diberi nama Bilkis Humaira itu memiliki berat 3,2 kg dengan panjang 49 cm. Ia tidak memiliki bibir langit-langit. Sementara kedua matanya tidak normal yakni bola matanya justru menonjol keluar. Anggota badan lainnya normal seperti pada umumnya.

Kini, dengan kondisi seperti itu keluarga hanya bisa pasrah. Ia tengah menunggu mengurus Kartu Keluarga (KK) guna proses mendaftar BPJS untuk biaya berobat. Ia cuma bisa mengandalkan itu karena pertimbangan ekonomi keluarga.

Wahid Widodo bekerja sebagai buruh tani mengolah sawah sekitar 500 m2. Sementara Siti sebagai ibu rumah tangga, yang memiliki kegiatan sampingan toko kelontong. Pendapatan yang mereka dapatkan tidak tentu jumlahnya.

“Kini kami hanya bisa mengandalkan untuk biaya berobat dari BPJS. Yang dibutuhkan keluarga saat ini pendampingan pengobatan,” tutur Widodo.

Ia mengaku butuh pendampingan pengobatan. Karena saat mengurusi anak pertamanya yang mengalami hal serupa, cukup merepotkan. Keluarga harus wira-wiri mengurus ini dan itu seorang diri.

“Harapan kami, Bilkis bisa dioperasi seperti kakaknya di RSUP Dr Sardjito Jogja. Kalau operasi dulu dapat bantuan dari dampak Merapi, sekarang ini Bilkis belum mendapatkan BPJS Kesehatan,” tutur Widodo.

Ia mengungkapkan pengalaman saat mengurusi putri pertamanya Istikomah yang kini berusia 5,5 tahun. Ia sempat dibawa ke RSUD Muntilan dan RSUP Dr Sardjito, namun sempat dibiarkan saja. Kemudian setelah diberitakan media dan usia anak memasuki empat bulan, baru dilakukan operasi.

“Saat ini untuk biaya operasi kami tidak memiliki,” ujarnya. Meski anak pertamanya menginjak usia 5,5 tahun, ia menjadi anak yang minder untuk sekolah. Untuk berteman ia memilih orang yang lebih tua.

Ia tidak mau jika dengan anak sebayanya yang belum kenal. Meski untuk bibir sumbing dan langit-langit atasnya telah dioperasi, kedua selaput matanya masih menonjol keluar.

“Sampai saat ini untuk makan yang kasar masih muntah. Istikomah hingga kini hanya makan serelak saja,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Dukun dr Edi Suharso menjelaskan, kondisi seperti ini dalam isitilah kedokteran yaitu kelainan bibir sumbing atau labio palatos schisis. Anaknya tidak memiliki bibir langit-langit atas. Sementara bola matanya tidak dalam sempurna.

“Kondisi ini diduga karena kelainan kromosom. Hasil hubungan orang tua yang masih memiliki hubungan darah,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi ini bisa dipulihkan dengan menjalani operasi sekitar 3-4 kali. Saat ini yang terpenting adalah memperhatikan kondisi kesehatan bayi agar tetap terjaga.

“Secara medis nanti untuk operasi minimal memasuki usia enam bulan. Itu menunggu tulang-tulang penyangga rangka sempurna,” jelasnya. (laz/fj/nal/ong)