RADARJOGJA.CO.ID – JOGJA – Hidup dalam keterbatasan bukan halangan untuk mendapatkan akses publik. Penyandang tunanetra bisa menyimak sebuah film dengan bioskop bisik. Ya, kemarin (23/11) penyandang tunanetra menyimak film berjudul Cahaya dari Timur yang diputar di sebuah movie box.

Meski tak kuasa melihat visualnya, para penyandang tunanetra dibantu oleh para pembisik. Relawan membisikkan dengan detail adegan, suasana dan mimic pemeran atau tokoh dalam film tersebut. Komunikasi dua arah ini dinamakan bioskop bisik.

“Para pembisik inilah yang menjadi mata bagi difabel memahami secara utuh alur sebuah film. Ekspresi sedih, lucu maupun tegang menandakan para pelajar Yaketunis ikut larut ke dalam cerita,” ujar Kepala Sekolah MTs Yaketunis Agus Suryanto kemarin.

Film Cahaya dari Timur menceritakan perjuangan anak-anak Maluku hingga menjadi juara dalam kejuaraan sepak bola di Jakarta. “Anak-anak sangat menikmati filmnya,” ungkapnya.

Dijelaskan, kegiatan bioskop bisik ini menjadi salah satu program Komunitas Brailleiant setiap satu bulan sekali secara gratis. Para pelajar tunanetra dan low vision, bisa mendapatkan pengalaman baru sekaligus hiburan.

“Selain ikut bioskop bisik, anak-anak juga ikut pelatihan bahasa Inggris. Ya mereka makin percaya diri berbahasa Inggris, ini dilakukan sehabis pulang sekolah jadi tidak mengganggu. Saya menyambut dengan senang,” ungkapnya.

Komunitas Brailleiant sendiri terbentuk sejak 2012 silam. Penggagasnyaā€ˇ adalah tiga orang mahasiswa yakni Veronika, Hayu, dan Yuda. Veronika mengungkapkan, perjuangan membantu para tunanetra bukan tanpa kendala. Awalnya dimulai dari kegiatan bakti sosial. Kemudian terpanggil untuk memberikan manfaat lain kepada teman-teman tunanetra. Kendalanya, karena tidak secara khusus mempelajari huruf Braille maka diperlukan pemahaman terlebih dulu.

“Kami memfasilitasi teman-teman tunanetra, mulai kursus bahasa Inggris, bioskop bisik, audio book masal dan program lainnya,” ungkapnya. (sky/ila/ong)