RADARJOGJA.CO.ID – Upaya mengantisipasi penyebaran penyakit demam berdarah dangue (DBD) dengan fogging di Padukuhan Karangduwet I, Karangrejek, Wonosari nyaris berujung petaka. Gara-garanya, saat petugas mulai melakukan pengasapan ada seorang warga terjebak di kamar mandi.

Korban diketahui bernama Maryati. Beruntung warga berhasil mengevakuasi korban dan langsung dibawa ke klinik Multazam, Wonosari. Informasi yang dihimpun Radar Jogja Online, peristiwa ini terjadi, Rabu (23/11).

Sebelum kejadian, petugas sudah menyampaikan informasi adanya pelaksanaan fogging pada warga. Kabar fooging itu sebenarnya juga sampai ke Maryati. Namun ia minta pada ketua RT setempat, agar rumahnya tidak dilakukan pengasapan.

Setelah itu, ia beraktivitas seperti biasa dan menuju ke kamar mandi. Tidak lama berselang ketika masih di dalam kamar mandi, Maryati dikejutkan dengan munculnya asap yang masuk melalui ventilasi.

Panik, Maryati berusaha keluar karena kepulan asap makin pekat. Namun apes, dia kesulitan keluar dan terjebak di dalam. Sekuat tenaga lantas berteriak meminta pertolongan.

Beruntung teriakan didengar oleh Giyem, tak lain ibunya sendiri. Upaya Gitem mengevakuasi Maryati dari kepungan asap berhasil. Selanjutnya Maryati dilarikan ke klinik setempat guna mendapatkan perawatan medis.

Diyah Prasetyorini, Kepala UPT Puskesmas 1 Wonosari selaku penanggung jawab fogging mengakui adanya insiden tersebut. Diyah mengatakan, fogging dilakukan untuk mencegah maraknya penyakit DBD.

“Kami mengaku terjadi miss-komunikasi antara petugas fogging dengan warga. Kami minta maaf atas kejadian ini,” kata Diyah.

Lebih jauh dikatakan, fooging sebenarnya bukan cara ampuh untuk mengatasi banyaknya demam beradarah. Demam beradarah sebenarnya bisa dicegah dengan cara memberantas jentik nyamuk.

“Upaya sosialisasi pemberantasan jentik nyamuk ke depan akan ditingkatkan,” ujarnya.

Berdasar data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, hingga awal tahun sampai dengan Oktober 2016 sudah terjadi 899 kasus DBD. Untuk Juli, tercatat ada 73 kasus. Pada Agustus ada 101 kasus, sementara September sebanyak 43 kasus. Untuk korban meninggal mencapai 4 orang. Beberapa wilayah dengan persebaran DBD paling tinggi, di antaranya Kecamatan Wonosari, disusul Kecamatan Playen, Kecamatan Paliyan, dan Kecamatan Karangmojo.(gun/hes)