Pelari Salah Arah Tak Perlu Terjadi
MUNGKID – Sejumlah pihak menyayangkan acara Borobudur Marathon 2016 yang diwarnai beberapa insiden. Mestinya kesalahan-kesalahan teknis saat acara berlangsung tidak perlu terjadi. Mengingat acara itu diikuti atlet dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang Yogyo Susaptoyono mengatakan, beberapa insiden saat hari H dijadikan proses pembelajaran bagi penyelenggara. Kabupaten Magelang dinilai membutuhkan event besar seperti itu.

Namun jika acara digelar tidak sesuai harapan, akan muncul dampak negatif. “Apalagi acara ini diikuti banyak orang, dari dalam dan luar negeri. Mestinya digelar secara profesional. Banyak tamu dari penjuru dunia. Tidak elok,” katanya kemarin (22/11).

Yogyo menjelaskan, penggunaan Candi Borobudur sebagai objek acara memiliki dampak negatif dan positif. Mengingat candi Buddha ini popularitasnya sudah bertaraf internasional. Jika acara berjalan lancar, maka akan memberikan nilai positif untuk perkembangan candi. Begitu pun sebaliknya.

“Acara besar seperti ini bagai dua sisi mata uang. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, maka Candi Borobudur pun akan ikut kena dampaknya,” jelasnya.

Ia pun menyampaikan, kesalahan teknis saat acara berlangsung mestinya tidak perlu terjadi. Mengingat acara pariwisata dan dipadukan dengan olahraga ini tidak hanya sekali dilaksanakan. Melainkan sudah sejak beberapa tahun silam. “Intinya itu harus jadi pembelajaran penyelenggara,” tegas Yogyo.

Mantan wartawan ini mengusulkan agar penyelenggaraan acara serupa dapat melibatkan masyarakat sekitar. Warga lokal dibuat agar ikut merasakan dan memiliki acara itu. Dengan demikian akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar Magelang.

Tidak hanya kalangan legislatif, salah satu tokoh masyarakat Borobudur Sucoro juga menyayangkan acara itu. Ia mengatakan, untuk memanfaatkan candi, tidak hanya melalui acara Borobudur Marathon. Tapi, masih ada juga acara yang lainnya.

Sebenarnya tidak ada persoalan jika acara bisa berjalan lancar. Ia pun setuju acara di Borobudur harus memiliki dampak positif untuk masyarakat sekitar. “Saya malah kasihan sama polisi, saat pelari dilepas di Jalan Medang Kamulan (Borobudur), masih ada lalu lalang mobil. Peserta berlari di antara mobil,” jelasnya.

Sucoro menyayangkan adanya beberapa insiden saat Borobudur Marathon 2016. Apalagi, acara ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri. “Semoga ke depan bisa lebih baik,” katanya.

Acara Borobudur Marathon diikuti lebih dari 18 ribu peserta. Selain itu, juga ada atlet dari negara Kenya. Kategori lomba di antaranya, Borobudur 10K, Borobudur Half Marathon menempuh sekitar 21 Km, Borobudur Full Marathon menempuh sekitar 42 Km dan Ultra Marathon 120 Km.

Perlombaan ini memperebutkan total hadiah sekitar Rp 3,2 miliar. Beberapa insiden yang terjadi di antaranya, peserta lari mengalami salah jalur. Saat pembagian medali di stand pembagian panitia, para peserta berjubel dan sempat antre cukup panjang. (ady/la/nal)